Showing posts with label Rumah Tangga. Show all posts
Showing posts with label Rumah Tangga. Show all posts

June 04, 2020

SUAMI BERZINA SAMPAI PUNYA ANAK ZINA

SUAMI BERZINA SAMPAI PUNYA ANAK ZINA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Selamat pagi Ustadz..
Saya mau bertanya tentang permasalahan dalam rumah tangga..
Setahun ini saya kira suami sudah berubah.. Rumah tangga kami harmonis dan baik baik saja.Dan dia baru saja pindah ke tempat kerja. Dr jakarta ke papua.

Baru bulan lalu saya tau kenyataan tentang keadaan rumah tangga saya.
Ternyata selama LDM, saya di jogja dan suami di jakarta. suami sudah 3 tahun kumpul kebo dan punya anak dari hubungan zina dengan perempuan yang berbeda agama. Dulu saya sebagai istri sudah menawarkan berhenti kerja dan mengikuti suami, tapi ditolak oleh suami.
Setiap saya mau berkunjung ke tempat suami selalu ditolak dan marah".
Dan suami sangat sayang dengan anak nya dari hasil selingkuhan nya.
Sedangkan saya belum bisa memberikan keturunan karena kami tinggal terpisah.
Dan suami selalu pulang ketika saya haid.

Dari pihak keluarga kami berdua tidak ada yang tau Ustadz tentang permasalahan ini.
Semua melihat kami sebagai pasangan yang harmonis.

Suami ternyata diam" akan menikahi wanita tersebut tahun depan.
Tapi entah jalan dari Allah saya bisa mengetahui apa yg suami saya tutupi dan rahasiakan rapat" dari saya dan keluarga.
setelah ketahuan, suami berjanji akan berubah dan tetap ingin mempertahan kan saya.
saya meminta suami menstop komunikasi dengan sang perempuan dan saya yang menggantikan komunikasi dan membiayai anak tersebut.
Dan pasangan selingkuhan nya tidak akan memberitahu kabar anak tersebut jika bukan suami saya yang menghubungi nya dan hanya akan menghubungi jika dia membutuhkan uang.
Sedangkan asli nya kondisi keuangan kami pas"an Ustadz.

Jika saya tidak bekerja, saya tidak bisa memenuhi segala kebutuhan rumah tangga.

Suami memberikan nafkah, tetapi juga suami selalu minta ditransfer 3-4 kali per bulannya. Sehingga tidak cukup jika hanya nafkah dari dia saja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.


Pertanyaannya :
1. Ustadz, bagaimana menyikapi suami yang sudah diperingatkan untuk berhenti selingkuh tapi tidak berhenti juga?
2. Bagaimana sebaiknya seorang istri menyikapi perbuatan sang suami? Apa solusi terbaik untuk masalah ini?
3. Apa salah saya seakan" memutuskan hubungan suami dengan anak dari selingkuhan nya? karena jika saya melarang suami menghubungi selingkuhan nya, selingkuhan nya tidak akan memberitahu perkembangan anaknya.
Karena suami sebenarnya protes karena saya seakan melarang dia untuk mengetahui perkembangan darah dagingnya.
4. Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa cepat ikhlas, memperoleh ketenangan batin, tidak selalu kepikiran masalah ini dan galau trus menerus. Saya merasa tenang setelah shalat, tapi beberapa waktu kemudian saya langsung down lagi.
5. Apakah salah saya ingin mempertahankan rumah tangga saya? Saya tidak mau mengalami perceraian dan menaruh harapan suami saya akan berubah. Dan rumah tangga kami selalu dalam perlindungan dan ridho Allah.
6. Apa nasihat yang pas sesuai dengan tuntunan agama yang dapat saya sampaikan ke suami saya? Karena dia selalu menjadikan darah dagingnya sebagai alasan ketika dinasihati. Yang membuat saya sakit hati. Dia tidak bisa melihat darah daging nya kekurangan, tapi dia tidak melihat bagaimana kondisi keuangan istrinya yg dia tinggalkan. Semua demi masa depan darah dagingnya tapi tidak melihat perasaan saya.

JAWABAN

1. Secara syariat, anda diberi pilihan untuk tetap bertahan atau berpisah. Anda dibolehkan untuk meminta cerai, tapi juga tidak dilarang untuk bertahan. Baca detail: Menyikapi Pasangan Selingkuh

Apabila anda memilih untuk bertahan, maka konsekuensinya anda harus bersabar dengan suami apabila hal yang sama terulang kembali.

2. Pilihan terbaik bagi anda tergantung dari mana yang membuat anda merasa paling nyaman: apabila tetap bertahan itu membuat anda nyaman, maka bertahan adalah pilihan terbaik. Apabila situasi ini sangat menyiksa anda, maka berpisah adalah pilihan terbaik. Bahkan, Rasulullah membolehkan salah seorang Sahabat wanita untuk berpisah dengan suaminya hanya karena rasa cintanya sudah hilang padahal sang suami tidak ada masalah selingkuh atau semacamnya. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tak Cinta

3. Pada dasarnya, anak yang dihasilkan dari hubungan zina tidak diakui agama sebagai anak dari ayah biologisnya. Baca detail: Status Anak Zina

4. Lihat jawaban poin 1 dan 2.

5. Tidak salah. Namun anda harus total sabarnya dan tidak mengeluh apabila ternyata suami masih melakukan hal yang sama dengan wanita yang sama atau wanita lain.

6. Tidak ada nasihat yang bisa anda sampaikan. Karena dia secara jelas sudah menunjukkan rasa sayangnya pada anak biologisnya. Justru semakin dinasihati dia semakin tidak suka pada anda. Cara terbaik untuk mengambil hatinya adalah dengan cara membiarkannya melakukan apapun yang dia mau dan anda tetap sabar melihat itu semua. Yang bisa anda lakukan hanyalah berdoa pada Allah agar cintanya pada anda tumbuh dan bersemi serta berbunga kembali. Itulah cara satu-satunya untuk mengembalikannya ke pangkuan anda. Baca doa berikut setiap selesai shalat 5 waktu: Doa Agar Disayang

RUMAH TANGGA: TALAK

Assalamualaikum wr.wb
Pa ustad yang mulia bolehkah saya bertanya?
Disini saya akan bercerita tentang keabsahan pernikahan saya, karena saya sering beranteum dengan suami saya
Ada beberapa kata yang keluar dari suami saya yang bermakna kata talak misalkan

1.Pengen aku tinggalin?

2.Gak mau ngurus nya jga yang kaya gtu mah maksud nya gak mau ngurus saya karena saya selalu bikin masalah dan karna sifat saya terlalu egois Besok nya kami baikan dan suami minta maaf dan saya menanyakan apa maksudnya ucapan itu apa ada niat gitu? Yang di maksud niat gitu (apa ada niat cerai?) suami menjawab tidak ada niat untuk menceraikan saya, maaf ucapan semalam tidak ada maksud untuk gitu Kami selalu berantem baikan lagi berantem lagi, dan kami besok nya berantem lagi dan saya sempat nge WA kaka saya bahwa saya sudah menyesal menikah dengan suami saya.. Suami saya membaca chat saya dengan kaka saya dan suami mengucapkan lagi

3.yu kerumah orangtua mu, mau aku anterin kerumah orang tua mu, bila terus menangis yu tidur nya di rumah orangtua mu, mau tidur disini apa di rumah orang tuamu , dan saya memilih untuk tidur di rumahku sendiri karena di situ saya menangis dan suami menawarkan untuk tidur dulu di rumah orangtuaku, biar saya tidak menagis terus katanya

4.cape aku juga kalau gini terus mah tiap malam ada ajah masalah

5.apa maksud nya bilang ke kaka kamu nyesel udah nikah sama aku, apa? pengen udahan?

6.dari dulu jga udah aku tinggalin kalau aku gak sayang mah

7.cape pusing aku juga gini terus, kalau udah gak mau sama aku lagi tinggalkan saja, bner pengen udahan kata saya, terserah mau nya gmna kalau udah gak mau sama aku tinggalin

8.berhenti menangis mau nurut gak sama aku kalau nangis terus aku beneran tinggalin

9.hampir setiap hari saya selalu bertanya kepada suami saya ,apakah ada niat untuk menceraikan ,suami selalu bilang tidak ada niat untuk menceraikan ,apakah sudah jatuh talak

İtulah ucapan yang suami lontarkan pa ustad apakah saya sudah jatuh talak?

Setiap kami baikan saya selalu menanyakan apa ada maksud untuk gitu? Suami selalu saja menjawab tidak ada niat untuk gitu tidak ada niat untuk menceraikan saya dan suami selalu marah berhenti bilang gitu sudah berapa puluh kali kamu menanyakan apa ada niat gitu terus saja menanyakan gitu, karna setiap berantem aku selalu menanyakan gitu karna saya was was pa ustad setiap suami melontarkan kata2 yang menyangkut ada makna talak ,saya takut, takut suami saya ada niat untuk menceraikan saya, tapi setiap kami berantem saya tidak pernah mendengar suami saya melontarkan kata cerai

Mohon di bantu pa ustad pernikahan saya bagaimana? Apakah masih sah sebagai suami istri apa yang harus saya lakukan?

Wassalamualaikum wr.wb

JAWABAN

Semua ucapan suami dari no. 1 s/d 9 itu termasuk kategori talak kinayah. Dan hukumnya baru jatuh talak apabila disertai dengan niat cerai.

Dalam konteks anda berdua, hukumnya tidak jatuh talak karena menurut suami anda dia tidak ada niat cerai. Baca detail: Cerai dalam Islam


April 27, 2020

Menyamakan Istri Dengan Ibu dan Anak Tidak Otomatis Zihar

Menyamakan Istri Dengan Ibu dan Anak Tidak Otomatis Zihar
MENYAMAKAN ISTRI DENGAN IBU TIDAK OTOMATIS ZIHAR

Assalamua'laikum ustadz
Saya mau bertanya :
1. Apakah ucapan / obrolan seprti ini " sepurane ya nda nek aku pernah nyakiti kamu dulu dulu aku wes kapok gak mau nyakitin kamu dosa e podo kyok madakno pean ambek ibukku " trus saya jawab loh yah gak oleh ngomong gitu " yo kan dosa e podo koyok madakno pean ambek ibukku biyen aku ancen gak tau sekarang gak tak baleni maneh. Saya juga gak tau kenapa suami bisa tiba tiba bicara gitu padahal juga lagi santai dia juga pas ngobrol sambil main game mungkin maksud suami " kalau aku nyakiti pean sama aja kayak aku nyakiti ibuku mungkin suami salah ngomong. Apakah obrolan seperti itu termasuk dzihar?

2. Kadang kan di masyarakat kita ada suami yang bilang ke anak perempuannya misal yang baru lahir " bibir e kayak bibir kamu (istri) / menyamakan anggota tubuh si bayi (anak perempuannya ) dengan istri apakah ini dihukumi dzihar

3. Misal pernah ada dzihar dan mau membayar kaffarat tapi suami kerja dari jam 2 sampai malem kebiasaan sebelum berangkat kerja mesti makan dulu terus ngerokok pas sebelum masuk kerja pasti ngerokok dulu (perokok yang cenderung berat) / ngopi dulu pasti ketemu temen gak enak kalau gg ikutan kadang juga agak sulit kalau nahan gak berhubungan dan biasanya pagi/ kalo gak siang karena malem udah capek apakah dengan keadaan seperti ini bisa di ganti dengan kaffarat memberi makan 60 orang ? Apakah orang yang lupa/ragu ragu apa pernah melakukan dzihar / pernah terjadi dzihar juga wajib membayar kaffarat?

JAWABAN

1. Tidak termasuk zihar.
2. Tidak termasuk zihar.
3. Kalau kasusnya seperti di no. 1 dan 2, maka tidak perlu ada kafarat zihar.

Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 29/196, dijelaskan:

والكناية عند جمهور الفقهاء ما يحتمل الظهار وغيره ولم يغلب استعماله في الظهار عرفا, ومثاله أن يقول الرجل لزوجته: أنت علي كأمي أو: مثل أمي, فإنه كناية في الظهار; لأنه يحتمل أنها مثل أمه في الكرامة والمنزلة, ويحتمل أنها مثلها في التحريم, فإن قصد أنها مثلها في الكرامة والمنزلة فلا يكون ظهارا ولا شيء عليه, وإن نوى به الطلاق كان طلاقا, وإن نوى به الظهار كان ظهارا; لأن اللفظ يحتمل كل هذه الأمور, فأي واحد منها أراده كان صحيحا وحمل اللفظ عليه, وإن قال: لم أقصد شيئا لا يكون ظهارا, لأن هذا اللفظ يستعمل في التحريم وغيره فلا ينصرف إلى التحريم إلا بنية

Artinya: Kinayah zihar menurut mayoritas ulama fikih adalah sesuatu yang ambigu mengandung unsur zihar dan lainnya dan tidak umum digunakan untuk zihar menurut kebiasaannya. Contohnya, suami berkata pada istrinya: "Kamu seperti ibuku" maka ucapan ini termasuik kinayah zihar karena ada kemungkinan suami menyerupakan istri dengan ibunya dalam segi kemuliaan dan kedudukannya. Mungkin juga diserupakan dari segi haramnya. Apabila suami bermaksud sama dari segi mulia dan kedudukannya maka tidak dianggap zihar dan tidak ada dampak hukumnya. Apabila suami berniat talak, maka menjadi talak. Apabila suami berniat zihar, maka menjadi zihar. Karena kata tersebut maknanya berkonotasi pada semua hal tersebut. Maka, makna apapun yang diinginkan suami maka itu menjadi sah. Apabila suami berkata "aku tidak bermaksud apapun" maka tidak menjadi zihar. Karena kata ini biasa dipakai untuk zihar dan lainnya, maka tidak dianggap zihar kecuali ada niat ke arah tersebut.
Baca detail:
- Zihar
- Zihar

January 05, 2020

Hukum Kata Non-Kinayah dg Niat Talak

Hukum Kata Non-Kinayah dg Niat Talak
NIAT TALAK DENGAN KATA NON-KINAYAH DAN NON SHARIH

Asslamualaikum pak ustadz. Saya pernah berselisih dengan istri. Lalu kemudian tiba-tiba ada lintasan hati atau muncul khayalan tentang talak di hati. Lalu terucap dalam hati "tah.." (b.sunda) artinya dalam bahasa indonesia "nih.." (seperti ketika kita ingin menyerahkan sesuatu lalu mengucapkan "nih"). Namun muncul muncul was was apakah kata itu terucap atau hanya dalam hati dengan hanya terdengar suara nafas saja. Namun jika seingat saya hanya dalam hati. Hanya terdengar suara nafas saja (antara mulut terbuka atau tertutup saya lupa). Tapi saya masih was was. Bagaimana pak ustadz?

Dan (2) apakah kata "tah" atau "nih" termasuk kinayah pak ustadz?

Jazakllah pak ustadz

JAWABAN

1. Tidak jatuh talak.

2. Kata 'tah' dan 'nih' tidak termasuk kata kinayah. Jadi seandainya pun diucapkan tidak berakibat talak walaupun disertai niat. Karena, tidak semua kata itu adalah kinayah. Kata kinayah adalah kata yang memiliki makna ambigu seperti "pergi", "pulang" dan sejenisnya. Baca detail: Cerai dalam Islam

URAIAN PENTING: KATA NON-KINAYAH TIDAK ADA DAMPAK TALAK WALAUPUN DISERTAI NIAT TALAK

KATA KINAYAH BARU BERDAMPAK TALAK APABILA DISERTAI NIAT TALAK

Pertama, perlu diketahui bahwa tidak semua kata mengandung kata kinayah. Sekali lagi, tidak semua kata mengandung kata kinayah. Kata yang mengandung talak kinayah hanyalah kata-kata tertentu yang mengandung makna ambigu antara talak dan bukan talak. Seperti kata "pergi", "pulang", "kuantar ke orangtuamu", dll. Kata pergi, misalnya, mengandung makna ambigu antara pergi ke suatu tempat atau pergi dari rumah suami (untuk cerai), dll.

Kata yang mengandung makna ambigu tersebut baru jatuh talak apabila saat suami mengucapkannya itu disertai dengan niat cerai. Baca detail: Talak Sharih dan Kinayah

KATA NON-KINAYAH TIDAK BERDAMPAK TALAK WALAUPUN DISERTAI NIAT TALAK

Kedua, terkait kata non-kinayah seperti makan, minum, ini, itu, dll maka tidak akan berdampak talak walaupun ada niat talak dari suami saat mengucapkan kata tersebut. Ini penting diketahui terutama bagi suami yang menderita penyakit was-was atau OCD. Baca detail: Was-was karena OCD

Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 29/24 dijelaskan:

وهل يقع الطّلاق بلفظ لا يحتمله أصلاً كقوله لها : اسقني ماءً ؟ إن لم ينو به الطّلاق لم يقع به شيء بالإجماع ، وإن نوى به الطّلاق وقع الطّلاق به عند المالكيّة على المشهور ، ولا يقع به شيء على مذهب الجمهور ، وهو قول ثان للمالكيّة .

Artinya: Apakah terjadi talak dengan memakai kata yang tidak mengandung ambigu makna talak sama sekali? seperti ucapan suami pada istri: Beri saya minum! apabila suami tidak berniat talak maka tidak terjadi cerai menurut ijmak. apabila ada niat talak, maka jatuh talak menurut madzhab Maliki dan tidak jatuh talak menurut jumhur (mayoritas ulama) yakni madzhab Syafi'i, Hanafi dan Hanbali. Bahkan pendapat kedua dari madzhab Maliki menyatakan tidak jatuh talak.

Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 29/26, dijelaskan:

ا كما اتفقوا على أن الكنائي في الطلاق هو: ما لم يوضع اللفظ له، واحتمله وغيره ـ فإذا لم يحتمله أصلاً لم يكن كناية، وكان لغواً لم يقع به شيء.

Artinya: Ulama sepakat bahwa kata kinayah dalam talak adalah kata yang tidak khusus bermakna talak melainkah kata yang mengandung makna lain selain talak. Apabila suatu kata sama sekali tidak mengandung makna talak maka tidak disebut kinayah. Mengatakan kata yang bukan kinayah hukumnya sia-sia tidak ada dampak apapun pada status pernikahan.

CONTOH KATA NON-KINAYAH

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 7/395, menyatakan:

فأما ما لا يشبه الطلاق، ولا يدل على الفراق، كقوله: اقعدي. وقومي. وكلي. واشربي. واقربي. وأطعميني واسقيني. وبارك الله عليك. وغفر الله لك. وما أحسنك. وأشباه ذلك، فليس بكناية، ولا تطلق به، وإن نوى؛ لأن اللفظ لا يحتمل الطلاق

Artinya: Adapun kata yang tidak menyerupai talak dan tidak menunjukkan makna perpisahan seperti (ucapan suami pada istri): "Duduklah!", "Berdirilah!", "Makanlah!", "Minumlah!", "Mendekatlah!", "Beri aku makan!", "Beri aku minum!", "Semoga Allah memberkatimu", "Semoga Allah mengampunimu", "Alangkah baiknya dirimu!" dan yang serupa dengan itu, maka tidak termasuk kata kinayah dan tidak berakibat talak walaupun disertai niat talak. Karena kata-kata tersebut tidak mengandung makna talak (sama sekali).

Baca detail: Kata Pisah: Sharih atau Kinayah?

December 23, 2019

Wali Nikah Tidak Menyebut Nama Putrinya Saat Ijab Kabul, Apakah Sah?

Wali Nikah Tidak Menyebut Nama Putrinya Saat Ijab Kabul, Apakah Sah?
PERNIKAHAN: WALI TIDAK MENYEBUT NAMA PUTRI TUNGGALNYA, PRIA MENYEBUT LENGKAP, APAKAH SAH?

Konsultasi Nikah (Ijan qobul)

Assalamualaikum wr wb, maaf ustadz saya mau bertanya.

Sah atau tidak ketika kalimat ijab yang diucapkan wali nikah (ayah) tidak menyebutkan nama pengantin wanitanya (saya nikahkan engkau dengan anak kandungku dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar tunai). Entah karena grogi atau memang teks yang dibaca demikian. Dan pengantin prianya membalas (kalimat qobul) dengan ucapan lengkap disertai nama pengantin wanita, nama ayah, dan mas kawin.

Walaupun pada akhirnya para saksi sudah mengsahkan namun ada keingintahuan karena baca di beberapa sumber mengatakan nama pengantin wanita disebutkan.
Tapi posisinya si ayah hanya memiliki satu anak perempuan. Sah atau tidak?
Terimakasih.
Wassalamualaikum wr wb

JAWABAN

Kalau punya putri lebih dari satu (dua atau lebih) maka tidak menyebut nama putrinya yang ditentukan itu tidak sah apabila tidak ada isyarat lain yang menunjukkan pada salahsatunya. Namun kalau putrinya hanya satu, maka hukumnya sah.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/482, menyatakan:

فإن كان له ابنتان أو أكثر، فقال: زوجتك ابنتي لم يصح حتى يضم إلى ذلك ما تتميز به، من اسم أو صفة، فيقول: زوجتك ابنتي الكبرى أو الوسطى أوالصغرى

Artinya: Apabila ayah punya dua putri atau lebih lalu ia berkata pada mempelai putra: "Aku nikahkan kamu dengan putriku" maka itu tidak sah kecuali setelah ada sesuatu yang menunjukkan perbedaan seperti nama atau sifat. Seperti ucapan ayah: "Aku nikahkan putriku yang besar atau tengah atau yang terkecil."

Jadi, ijab kabul dalma kasus anda sudah sah karena putri dari wali hanya satu.
Baca juga: Salah sebut nama Calon Istri

December 17, 2019

Nikah Siri Dan Talak

NIKAH SIRI DAN TALAK

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat siang pak ustadz / ibu ustadzah
Saya Nurnaeni, saya mau menanyakan perihal nikah siri & talak Saya menikah dengan suami kedua saya hampir 4th yang lalu secara siri karena ibu dari suami saya blm ada restu.

Waktu itu suami saya bilang tidak lama akan di sahkan. Tapi sampai sekarang sampai ibu mertua saya meninggal suami saya tidak ada omongan lagi masalah mau sah in pernikahan kami.

Dan di akhir2 ini kami ada masalah, suami saya beda 27th sama saya. 1th ini dia tidak bisa memberikan nafkah secara lahir maupun bathin karena penyakit gula. Suami saya tidak ada usaha buat cari nafkah, padahal masih bisa ng-grab. Dan 1 bulan yang lalu suami saya bilang seperti ini " kalau bunda mau kita masing-masing ayah ikhlas"

Jujur saya juga ingin bahagia, saya ingin hamil. Tapi saya tidak tega untuk minta cerai.
Yang mau saya tanyakan apakah ini sudah jatuh talak atau belum?

Terimakasih sebelumnya

JAWABAN

Ucapan suami tersebut tidak jatuh talak karena masih berupa penawaran bukan pernyataan. Kalau anda ingin talak, maka bicaralah terus terang untuk meminta cerai. Kalau suami menjawab iya, maka itu sudah jatuh talak. Baca detail: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri

TALAK KINAYAH

Ustadz saya masih takut dan kepikiran karena terlalu banyak kata kata yang mengandung arti talak kinayah dimasa lalu karena ketidak tahuan kita tentang ucapan talak. Dulu setiap suami ngucap talak kinayah saya tidak pernah menanyai apa maksudnya ngucap seperti itu karena saya juga tidak mengerti.

1. Apakah masih berlaku kalau saya menanyai niat suami tentang ucapan di masa lalu di masa sekarang ???
2. Suami bilang dulu tidak ada niat menceraikan asal nyeplos aja sampai dia berani sumpah demi Allah tidak ada niatan menceraikan.bagaimana kalau suami lupa niatnya?
3.apakah Allah memafkan hambanya kalau tidak mengetahui hukum hukum tentang ucapan Talak dimasa lalu??? jujur saya masih kepikiran ustadz kalau tidak jatuh dimata Allah alhamdulillah bagaimana kalau jatuh talaknya tanpa kita ketahui apakah berarti saya akan berzina seumur hidup saya ustadz.saya sangat sangat takut ustadz.

JAWABAN


1. Ada atau tidak adanya niat itu saat ia mengucapkan kata kinayah tsb. Bukan sekarang.

2. Lupa berarti dianggap tidak ada niat.

3. Ya, Allah memaafkan orang yang tidak tahu. Termasuk dalam masalah talak. Bahkan seandainya suami mengucapkan talak yang sharih tapi dia tidak tahu kalau ucapan itu berakibat talak (dia mengira talak jatuh hanya di pengadilan, misalnya, maka hukumnya tidak jatuh talak. Baca detail: Suami Awam Tidak Tahu Konsekuensi Hukum Ucapan Talak

Kesimpulan:

Anda tidak perlu takut berlebihan soal talak. Itu namanya was-was dan was-was itu hukumnya haram dan berdosa. Abaikan rasa takut seperti itu. Baca detail: Cara Sembuh Was-was

Ketika ulama memutuskan bahwa pernikahan anda berdua masih sah, maka anda harus percaya itu dan syukuri. Kalau tidak mau percaya, maka anda tidak lagi perlu bertanya.

tinggal yang perlu anda lakukan ke depannya adalah berusaha berumah tangga yang baik agar tidak lagi terjadi pertengkaran yang berakibat ucapan talak. Baca detail: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

JODOH:

Assalamualaikum wr. wb

Saya ingin berkonsultasi soal memilih jodoh. Saya wanita, saat ini sudah berusia 28 tahun dan belum menikah. Saat ini saya sedang dekat dengan seorang pria yang dikenalkan oleh kerabat saya. Umur pasangan saya lebih muda dari saya 1,5 tahun namun menurut saya pemikiran dia lebih dewasa dibanding saya.

Dari awal berkenalan saya sudah menekankan, bahwa saya serius mencari seorang pendamping hidup bukan hanya untuk main main saja. Dan dia pun setuju dan sependapat kalau dia juga sedang mencari calon istri. Kami saling berkenalan bertukar informasi tentang kelebihan dan kekurangan masing masing. Dia sangat terbuka soal dirinya, keluarganya, sampai soal keuangannya. Dia berasal dari keluarga yang kurang harmonis, orang tuanya sudah lama bercerai. Kehidupan keluarganya bisa dibilang (maaf) berantakan. Dari segi ekonomi dia belum mapan, masih terlilit hutang, dan belum mempunyai tabungan. Pendidikan dia lebih rendah dari saya, tapi dia memiliki pekerjaan yang cukup baik.

Saya melihat keseriusan dari dirinya. Semua kejujuran dia, keterbukaan dia, kebaikannya, tanggung jawabnya dengan keluarga, dan ibadah dia yg cukup baik membuat saya berkeinginan memberikan kesempatan untuk dia. Tapi jujur ada rasa takut, dan keraguan yang sangat besar didalam diri saya untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius.

Saya mulai mencoba untuk memperkenalkan dia dengan keluarga saya, orang tua saya memberikan hak penuh ke saya. Jika saya senang, dan bisa menerimanya orang tua saya pun setuju saja. Namun saya belum sepenuhnya menceritakan ke orang tua saya semua tentang dia. Ada rasa takut dalam diri saya, kalau orangtua saya akan 'agak berat' menerimanya karena pendidikannya yang lebih rendah dari saya. Sejujurnya saya mulai menyukainya. Saya melihat keseriusannya dan perubahan dia yang semakin menjadi lebih baik.

Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Melihat semua usahanya, saya menjadi seperti merasa tidak adil jika saya tidak memberinya kesempatan. Dan diapun berharap dan yakin kalau saya bisa mensupport dia menjadi pendamping dia, buat hidup dia yang lebih baik. Tapi jika melihat kenyataan masalahnya yang menurut saya sangat berat hati saya takut dan penuh keraguan. Saya mohon dan mengharapkan saran atas apa yang sebaiknya saya lakukan.
Terimakasih

Wassalamualaikum wr wb

JAWABAN


Kalau yang menjadi kekuatiran anda tidak akan mendapat restu dari orang tua adalah level pendidikannya, maka itu termasuk masalah yang tidak sulit. Anda bisa menyuruh dia kuliah lagi dengan program ekstensi yang cuma masuk sabtu minggu. Agar level pendidikannya sama dg anda. Baca detail: Cara Memilih Jodoh

December 16, 2019

Kata Cerai Tanpa Subyek

Kata Cerai Tanpa Subyek
KATA CERAI TANPA SUBYEK ITU TIDAK SAH

Assalamualaikum ustadz
Langsung saja saya ingin berkonsultasi masalah talak shorih.
Beberapa hari lalu saya membaca salah satu artikel di internet mengenai talak shorih.Seperti yang di ketahui kalimat shorih itu seperti "aku ceraikan kamu" ,"aku talak kamu" , aku menceraikan mu" , aku jatuhkan talak kepadamu" .

Namun bagaimana jika seorang suami mengatakan " cerai aja " atau hanya " cerai" ?

Pada artikel tersebut yang saya baca seperti berikut :

*Syafiiyyah yang kuat berpendapat ia adalah sindiran.Nawawi rahimahullah dalam Minhaj mengatakan " yang jelas itu adalah talak , begitu juga dengan pisah dan lepas, menurut yang terkenal seperti "saya ceraikan kamu" , anda cerai , dan di ceraikan, wahai orang-orang yang di cerai ,bukan "anda cerai" dan "cerai" menurut pendapat yang kuat.

*Ramli dalam penjelasannya mengatakan (anda tidak talak) dan anda talak , menurut pendapat yang kuat,bahkan keduanya adalah sindiran.Kalau anda melakukan hal ini maka ia talak mu , atau ia talak anda ,sebagai mana yang nampak karena Masdar ( kata benda ) tidak di gunakan kepada seseorang kecuali untuk memperluas.

Tidak ragu lagi , bahwa perkataan talak,cerai, perceraian tanpa mengucapkan anda lebih lemah dari "anda cerai" ,yang nampak itu adalah sindiran ,dari sini kalau mengatakan talak atau cerai atau perceraian jika di niatkan jatuh cerai,jika tidak di niatkan tidak jatuh cerai.

Itulah bunyi artikel yang saya baca.

PERTANYAAN:

-Apakah bukan termasuk talak shorih ketika suami bilang "cerai saja" atau hanya kata "cerai", bukan "aku ceraikan kamu " atau aku talak kamu"?
Mohon jawabannya ustadz karena saya benar-benar ragu dalam membedakan hal ini
Wassalamu'alaikum.

JAWABAN

Ya, betul. Dalam madzhab Syafi'i dinyatakan bahwa kata 'talak' walaupun termasuk sharih namun harus dibuat dalam bentuk kalimat sempurna dan harus disebut subyeknya yang mengarah ke istri.

Qalyubi dalam Hasyiyah Qalyubi wa Umairah, hlm. 3/490, menyatakan:

قوله: (كطلقتك) فلا بد من إسناد اللفظ للمخاطب أو عينه أو ما يقوم مقامها.اهـ

Artinya: Harus menyandarkan kata talak pada pihak kedua atau menyebut orangnya atau semakna dengan itu.

Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, hlm. 2/254, menjelaskan maksud Qalyubi di atas:

ويشترط في وقوع الطلاق الصريح: أن يكون لفظه مضافا إلى الزوجة، كأن يقول: زوجتي طالق، أو أنت طالق. انتهى

Artinya: Untuk terjadinya talak sharih disyaratkan kata talak itu disandarkan pada istri. Seperti kalimat: "Istri tertalak" atau "Kamu (istri) tertalak"

Baca detail: Cerai dalam Islam

December 05, 2019

Talak via WA (Whats App)

TALAK VIA WA

assalamualaikum wr.wb.kt
sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas jawaban pertanyaan saya yang sebelumnya.saya mau bertanya lagi yang masih ada kaitanya dengan pertanyaan yang sebelumnya.saya baru tahu kalo masih di hari yang sama tepatya sore hari suami saya dihubungi oleh kakanya melalui wa.begini percakapanya
kaka suami: kamu kenapa dengan istri?
suami: berantem
kaka suami: emang ada masalah apa?
suami: biarin tak ceraikan sekalian
kaka suami: eh jangan begitu emang masalahya apa?
suami : bohong ketang
begitu percakapan suami dan kakanya lewat wa

pertengkaran antara saya dan suami terjadi pagi hari ketika sebelum suami berangkat kerja.dan percakapan suami dengan kakanya terjadi sore harinya.nah pada saat sebelum minta maaf pun tepatya setelah pulang kerja suami pun bilang kalo dia udah bilang ke kaka dan ibunya.suami bilang aku sudang ngomong ke ibu.dan kata ibu juga ga apa apa terserah aku.aku juga ga papa. yang saya tangkap maksud perkataan suami ga apa apa itu adalah ga apa apa kalau cerai.tapi disini suami sudah tidak menyebutkan kata kata cerai lagi.saya pun menjawab kalau saya tidak mau bercerai.tapi belakangan baru saya ketahui kalau suami sebenarya bohong.dia sebenerya belum ngomong ke ibunya.dia ngomong gitu cuman buat menakut nakuti saya saja.

pertanyaan saya:
1. apakah kalimat yang diucapakan kepada kakanya melalui wa sudah jatuh talak?

2.kalimat yang dia bilang sudah ngomong ke ibunya kata ibu terserah dan suami sendiri juga bilang kalau aku juga ga apa apa.apakah sudah jatuh talak juga? karena saya menangkap dalam obrolan tersebut adalah ga apa apa kalau bercerai.solaya dalam obrolan tersebut saya langsung menjawab kalau saya tidak mau bercerai

3.jika antara pertanyaan 1 dan 2 sudah terjadi talak talak berapa?soalya itu terjadi di hari yang sama sebelum saya dan suami berbaikan

4.suami saya adalah orang yang tidak mengerti hukum talak.apakah jika sudah terjadi talak talaknya sah?
saya dan suami sebenarnya tidak ingin bercerai.setelah pertengkaran kemaren hubungan saya dan suami menjadi lebih baik lagi dan kami saling menjaga agar lebih sabar dalam menghadapi setiap masalah.demikian pertanyaan saya semoga bisa mendapatkan jawaban.karena jujur saya belum merasa tenang dan masih teringat terus peristiwa pertengkaran itu takut kalau sudah jatuh talak dalam pernikahan saya

JAWABAN

1. Ucapan suami "biarin tak ceraikan sekalian" termasuk kategori talak kinayah karena diucapkan secara tertulis. Kalau disertai niat maka jatuh talak, kalau tidak ada niat tidak terjadi cerai. Baca detail: Cerai secara Tertulis

2. Tidak ada kata cerai dalam ucapan tersebut. Jadi tidak berakibat talak.

3. Tidak terjadi talak sama sekali kecuali kalau dalam kasus 1 disertai niat talak.

4. Tidak tahu hukum talak membuat ucapannya yang terkait talak menjadi tidak sah walaupun ucapannya mengandung talak sharih. Baca detail: Talak orang Awam Hukum

SETETES DARAH HAID YANG TIDAK DIKETAHUI

Assalamualaikum.

Beberapa kali, saat sedang haid dan setelah kencing lalu memakai celana luar, saya baru sadar ada setetes air yang tercampur darah di kloset bagian tempat duduk saya. Saya tidak tahu apa air darah tersebut mengenai paha saya.

1. Apakah saya tidak usah mencuci ulang kaki beserta celana karna tidak tahu pasti kena tidaknya air darah itu?

Terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Kalau di kaki dan celana anda tidak ada bekas darah, maka tidak perlu mencucinya. Dalam kaidah fikih, dalam situasi keraguan, maka status hukumnya adalah kembali ke hukum asal. Hukum asal dari kaki dan celana anda adalah suci, maka tetap dianggap suci sampai terbukti sebaliknya. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

KELUAR MADZI, APAKAH TANDA BALIGH?

Assalaamu’alikum...

Pak Ustad, dulu saya pernah melakukan onani saat SD kelas 6, saat ejakulasi, ternyata cairan yang keluar berwarna bening dan keluar tanpa memancar, saya tidak tahu apakah setelah cairan tersebut keluar badan saya menjadi lemas atau tidak, dan saya juga tidak tahu baunya.


1) Apakah cairan yang keluar tersebut merupakan madzi?

2) Apakah pada saat tersebut, saya sudah bisa dikatakan balig?


Padahal, saya baru yakin kalau cairan yang keluar merupakan sperma itu pada saat kelas 1 SMP. Demikian pertanyaannya. Wassalaamu’alikum...

JAWABAN

1. Iya, kemungkinan besar madzi.
2. Belum. Tanda baligh adalah keluar mani. Baca detail: Beda Mani, Madzi, dan wadi