August 28, 2019

Mengucapkan Talak saat Marah Tak Terkontrol

MENGUCAPKAN TALAK KARENA MARAH TIDAK TERKONTROL

Terima kasih atas jawabannya. saya masih ada pertanyaan yg sangat mengganjal selama ini

Pada satu hari, saya pernah terucap kata talak kepada istri. karena waktu itu saya sangat marah sama istri. sampai2 ucapan saya tidak terkontrol. saya mengucap talak 3 ke istri. Namun setelah itu saya sadar. dan minta maaf sama istri. itu terjadi sekitar 4 tahun yg lalu. sampai saat ini hub kami baik2 saja. namun saya tetap ada ganjalan di hati mengenai ucapan saya. apakah talak 3 saya sah? apakah hubungan kami masih suami istri? apakah kami harus berpisah? saat ini kami masih saling menyayangi.

mohon pencerahannya, makasih

JAWABAN

Kalau marahnya sampai tidak terkontrol, maka ada pendapat yang menyatakan tidak jatuh talak. Baca detail: Cerai saat Marah

Kalau seandainya pun jatuh talak, maka hanya jatuh talak 1 menurut pandangan sebagian ulama. Baca detail: Talak Tiga dalam Satu Majelis


RUMAH TANGGA: SETELAH LAHIR KITA CERAI, APA JATUH TALAK?

Assalamualaikum ustadz,
Saya mau bertanya ustadz, sebelumnya saya mau ceritakan kronologis masalahnya dahulu.
Saya sudah menikah dgn lelaki yang saya cintai tapi saya tidak direstui oleh ibu dan ayah (tiri) saya. Sampai akhirnya saya hamil 5bln sbelum mnikah. Saya menikah dengan wali kakak kandung laki2 saya dengan saksi lbh dr 3 orang d depan keluarga saya dan yg menikahkan ayah dari suami saya karena beliau amil di tempatnya. Saya menikah hanya mndapatkan surat tanda akad nikah saja, tidak ada surat nikah dr kua.

Sebelum menikah, suami saya ketahuan selingkuh dengan perempuan lain dan melakukan hubungan badan selama 3x. Saya pergoki mereka ada d rumahnya, lalu suami saya (pada saat itu masih pacar) bilang di depan perempuan itu kalau dia sudah tidak mau tanggung jawab kpda saya, sudah tak bahagia bersama saya. Padahal saya sudah berjuang sampai saya kredit k bank kurang lebih 30juta untuk modal dia buka usaha agar orang tua saya bisa setuju dan yakin saya bisa menikah dengan dia.

Hancur hati saya ustadz, sangat-sangat hancur. Bukan lagi merasa ditipu. Sampai2 pada saat itu saya menyerah untuk tidak menuntut dia menikahi saya, sampai saya bilang, "saya tidak akan minta dinikahi, saya mau membesarkan anak ini, tp stlh anak ini lahir, saya tidak akan beritahu siapa bapaknya dan saya minta bayar smua hutang2 atas nama saya d bank, dan semua menjadi urusan kamu dan keluarga saya karena saya tidak mau lagi ketemu kamu." pada akhirnya dia mau menikahi saya dengan alasan dia sayang sama bayi yg saya kandung, tp dengan syarat stlh anak lahir kita bercerai. Saya menyetujuinya.

Dan saya sangat merasa tak ada lagi harga diri, dia berkata itu di depan perempuan selingkuhan nya.
Setelah menikah, saya pindah k rumah suami saya karena org tua saya tak mau tetangga atau saudara tau saya hamil diluar nikah. Jujur serasa dibuang oleh keluarga, tp saya terima karena saya tau ini akibat perbuatan saya. Perlakuan suami saya kembali seperti dulu, masih harmonis seperti sebelum dia berselingkuh. Tapi saya sering menangis sendiri kalau teringat kejadian itu, dalam hati saya tak terima, bila saya waktu itu tidak hamil mungkin saya akan pergi saja tak kan minta dinikahi.

Selagi saya hamil saya tidak bekerja, saya hanya berjualan online dan suami saya serabutan karena saya tak tau modal yg saya beri pinjam entah kemana dan jadi apah oleh dia. Sampai sewaktu saya hamil 7bln, suami saya sama sekali tidak kasih nafkah materi kurang lebih 1bln dan saya yang sedang hamil besar masih berusaha berjualan online dan makanan untuk diantar k warung2. Tapi saat itu saya tidak marah kepada suami saya, saya tidak menuntut nafkah apapun karena bagi saya selama saya bisa melakukan sendiri akan saya lakukan. Sampai saya berhutang pada teman2 saya untuk menutupi biaya sehari2 dan bayar cicilan bank. Sampai akhirnya anak kami pun lahir, semua biaya persalinan sampai perlengkapan bayi pun orang tua saya yang menanggung. Orang tua saya sangat kecewa, karena merasa tak ada tanggung jawab nya secara materi dr suami saya. Terlebih tak ada kata terimakasih terucap dr suami saya kepada orang tua saya. Mereka sangat2 kecewa apalagi sebelumnya memang mereka tidak setuju.

Setelah 5bulan anak kami lahir, saya menemukan pesan wa dari perempuan d hp suami saya. Saya rasa untuk pesan dr istri teman nya itu tidak pantas, isinya kurang lebih begini,
Lagi apa?
Masih di rumah?
Saya coba pancing dgn jawab pesan nya, dan akhirnya saya telpon perempuan itu, diangkat tp setelah tau saya yg telfon langsung dia matikan panggilan kpda suami saya pun berubah stlh dia tau saya yg balas.
Lalu perempuan itu meminta maaf dan berjanji tdk akan wa lg suami saya.

Saya bilang, knpa minta maaf dan tak akan wa lg klo memang tak ada apa2??
Suami saya tidak menjelaskan apapun, dia hanya bilang itu istri tmen nya, sudah introgasi nya? Seolah tak terjadi apapun dan menganggap enteng mslh itu pdahal dia ligat saya menangis dan sangat marah.
Tak lama saya beres2 barang saya dan anak saya bermaksud untuk pulang ke rumah ortu saya. Dia tanya mau kmna, dan saya jwab mau pulang, dia jawab, "mau diantar?" seolah2 seperti menyuruh pulang dan saya merasa tak ada harganya sama sekali. Dia lalu mandi dan pergi mencari uang tanpa menjelaskan seditpun ttg masalah wa perempuan itu. Saya yg emosi dan yakin dia sudah berselingkuh, membereskan barang2 dan sorenya saya pulang k rumah ortu saya dengan ijin pada suami saya kalau saya mau pulang.

Suami saya mengira saya tak serius untuk pulang, karena perjanjian kita kalai saya pulang k rumah ortu, dia tak akan pernah menjemput dan itu tanda nya kita cerai. Setelah saya pulang k rumah ortu, keadaan ekonomi semakin kacau, banyak org2 yg menagih hutang k rumah sampai suami saya pergi sangat pagi dan pulang tengah malam untuk menghindari. Sementara saya masih meladeni org2 yg menagih hutang, sampai akhirnya rumah pun d gembok orang yg memberi hutang. Sampai sekarang hampir 4bln saya tidak dinafkahi dan suami saya pun hidupnya luntang lantung entah dmana. Sampai sekarang komunikasi masih, tp saya sudah tidak perduli dengan dia.

Berkali2 saya minta cerai karena saya sudah tak mau dkhianatin trus. Urusan materi buat saya tak masalah asalkan memang mau berjuang bersama, tp saya tidak terima bila dikhianati. Dia tidak pernah mengakui mslh perselingkuhan wa ny itu, tp sampai skrg hampir 4bln dia tak ada datang mengunjungi saya dan anak saya. Saya selalu minta cerai, tp dia selalu bilang sampai kapanpun dia tak akan jatuhkan talak.

Pertanyaan nya ustadz,
1. Apakah pernikahan saya sah? Stelah dia ucapkan stlh lahir anak kita cerai.
2. Stlh anak lahir saya tidak menikah lagi, apakah saya masih sah istrinya?
3. Saya tidak dinafkahi lahir batin selama 4 bln, saya meminta cerai dengan perjanjian kpd keluarga nya tanpa ada suami saya. Apa sah cerai? Walaupun suami saya tidak mau jatuhkan talak.
4. Hukum bin anak saya, bin ibu nya atau bapaknya?
5. Bagaimana agar saya sah cerai secara agama?
6. Apakah dalam kasus ini saya berdosa meninggalkan rumah?

Besar harapan saya agar ustadz dapat menjawab kebingungan saya. Mohon maaf apabila terlalu panjang, karena saya rasa harus menjelaskan nya agar jawaban ustadz bisa menjawab smua kebingungan saya. Terima kasih ustadz.

Wassalamualaikum

JAWABAN

1. Sah. Ucapan mau cerai setelah anak lahir itu diucapkan ketika belum menikah sehingga tidak ada dampak hukumnya.

2. Sah. Pernikahan wanita hamil zina hukumnya sah. Baca detail: Menikahi Wanita Hamil Zina, Bolehkah?

3. Tidak sah cerainya. Cerai itu baru terjadi apabila: a) suami menjatuhkan talak; atau b) hakim agama menjatuhkan talak atas permintaan istri yang melakukan gugat cerai. Baca detail: Cerai dalam Islam

4. bin ke bapaknya. Baca detail: Pernikahan Wanita Hamil Zina dan Status Anak

5. Anda bisa mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama. Karena nikah anda secara siri, maka nanti akan dilakukan isbat nikah dulu oleh pengadilan agama lalu dilanjutkan dengan proses gugat cerai. Baca detail: Cara Gugat Cerai Nikah Siri dan Isbat Nikah

6. Selagi masih menjadi istri, maka wajib taat pada suami. Baca detail: Batasan Taat Istri Pada Suami

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com


EmoticonEmoticon