Hot!

Cara Rujuk Cerai Talak

Cara Rujuk Cerai Talak
Seorang istri yang dicerai oleh suaminya dengan talak 1 (satu) atau talak 2 (dua) disebut talak raj'i(QS Al-Baqarah 2:229). Istri yang berstatus talak raj'i masih bisa dirujuk kembali (QS At-Talaq 65:2). Sedangkan apabila istri sudah ditalak 3 (tiga) atau talak bain kubro, maka tidak bisa lagi suami melakukan rujuk kecuali setelah istri menikah lagi dengan pria lain (QS Al-Baqarah 2:230)

Adapun cara rujuknya dirinci sebagai berikut:

Pertama, apabila rujuknya suami masih dalam masa iddah, maka suami bisa rujuk secara langsung tanpa diperlukan akad nikah ulang. Suami cukup mengatakan "Aku rujuk kamu" pada istrinya, maka keduanya kembali berstatus suami istri yang sah. (QS At-Talaq 65:2)

Kedua, apabila masa iddah sudah habis, maka cara rujuknya adalah dengan melakukan akad nikah ulang sebagaimana layaknya pernikahan yang biasa (QS An-Nisa' 4:3) yaitu a) dinikahkan oleh wali atau wakilnya; b) ada ijab kabul antara wali dan si lelaki; c) ada dua saksi laki-laki. Baca detail: Pernikahan Islam

MASA IDDAH ISTRI YANG DITALAK MENURUT EMPAT MADZHAB

Masa iddah atau masa tunggu perempuan yang dicerai adalah dirinci sebagai berikut:

Pertama, masa iddah istri yang ditinggal mati suaminya: 4 bulan 10 hari. (QS Al-Baqarah 2:234)

Kedua, masa iddah wanita yang dicerai atau ditinggal mati saat dia sedang hamil adalah setelah melahirkan. (QS At-Talaq 65:4)

Ketiga, masa iddah wanita yang tidak haid, baik tidak haid karena bawaan sejak awal atau karena menopause adalah 3 (tiga) bulan. (QS At-Talaq 65:4)

Keempat, masa iddah wanita yang biasanya haid adalah 3 (tiga) quru' sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah 2:228.

PENGERTIAN QURU'

Dalam poin keempat disebutkan bahwa masa iddah wanita yang haid adalah tiga quru'. Ada perbedaan ulama tentang makna quru' sebagai berikut:

a) Madzhab Syafi'i dan Maliki memaknai quru' sebagai masa suci. [1]

b) Madzhab Hanafi dan Hambali menafsiri kata quru' sebagai masa haid.[2]

CARA RUJUK SAAT MASA IDDAH MENURUT MADZHAB EMPAT

a) Menurut madzhab Syafi'i, cara rujuk saat masa iddah belum habis adalah suami mengatakan pada istri, "Aku rujuk padamu." Setelah ucapan ini, maka status suami istri kembali sah. Tanpa ucapan rujuk ini, maka haram bagi suami untuk melakukan hubungan apapun termasuk bercumbu dan hubungan badan (bersetubuh).[3]

b) Menurut madzhab Maliki, mencumbu istri dengan niat rujuk sudah dianggap sah rujuknya. Sama saja cumbuan itu sampai hubungan intim atau tidak.[4]

c) Menurut madzhab Hanafi, cara rujuk selama masa iddah adalah cukup bagi suami mencumbu istri walaupun dengan tanpa niat rujuk maka rujuknya sudah sah dan keduanya kembali berstatus sebagai suami istri. Bentuk cumbuannya bisa berupa sentuhan dengan syahwat, ciuman, hubungan intim atau dengan melihat kemaluan istri dengan syahwat. Atau sebaliknya, istri yang melakukan cumbuan tersebut lebih dulu.[5]

d) Madzhab Hanbali sama dengan madzhab Hanafi, yakni bahwa bercumbu dengan istri sudah dianggap rujuk baik dengan niat rujuk atau tanpa niat rujuk.[6]


REFERENSI AYAT AL-QURAN

Ayat-ayat berikut berdasarkan urutan kronologi ayat yang disebut di atas

QS 2:229 "Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik."

QS At-Talaq 65:2 "Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik"

QS Al-Baqarah 2:230 "Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali."

QS At-Talaq 65:2 (lihat di atas)

QS An-Nisa' 4:3 "maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja."

QS Al-Baqarah 2:234 "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari."

QS At-Talaq 65:4 "Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya."

QS At-Talaq 65:4 "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan."

QS Al-Baqarah 2:228: "Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quruk."

REFERENSI KITAB

[1] Tafsir Al-Qurtubi, hlm. 3/113; Khatib Syarbini, Mughnil Muhtaj, hlm. 3/385.

[2] Al-Kasani, Badaiush Shanai', hlm. 3/193; Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 7/452.

[3] Al-Jazari, Al-Fiqh alal Madzahib Al-Arba'ah, hlm. 4/378. Teks:

والشافعية يقولون: يحرم على المطلق رجعياً أن يطأ المطلقة أو يستمتع بها قبل رجعتها بالقول ولو بنية الرجعة،

Artinya: Madzhab Syafi'i mengatakan bahwa haram bagi suami yang menceraikan istri dengan talak raj'i melakukan hubungan intim pada istri yang ditalak atau mencumbunya sebelum rujuk dengan ucapan. Walaupun dengan niat rujuk.

[4] Al-Jazari, ibid. Teks:

إذا طلقها طلاقاً رجعياً حرم عليه الاستمتاع بها بدون نية الرجعة، فإذا نوى الرجعة فقد راجعها ورفع هذه الحرمة،

Artinya: Apabila suami menceraikan istrinya dengan talak raj'ie (talak 1 atau 2), maka haram bagi suami untuk bercumbu dengan istri tanpa niat rujuk. Apabila sudah niat rujuk, maka dianggap sudah rujuk dan hilang keharamannya.

[5] Al-Jazari, ibid. Teks:

فيحل له أن يستمتع بها بدون نية رجعة مع الكراهة التنزيهية، فإذا فعل معها فعلاً يوجب حرمة المصاهرة من لمس بشهوة، أو تقبيل، أو نظر إلى داخل فرجها بشهوة، أو نحو ذلك مما تقدم، فإن ذلك يكون رجعة ولو لم يقصد به الرجعة، وكذا إذا فعلت معه ذلك، كأن قبلته بشهوة، أو نظرت إليه، أو نهو ذلك مما يأتي.

Artinya: Halal bagi suami bercumbu dengan istri (yang ditalak raj'i) tanpa niat rujuk tapi makruh tanzih. Apabila suami melakukan perbuatan yang berakibat haramnya musaharah seperti menyentuh dengan syahwat, mencium, melihat kemaluannya dengan syahwat atau serupa dengan itu, maka hal itu dianggap rujuk walaupun tanpa niat rujuk. Begitu juga apabila istri (yang ditalak raj'i) melakukan hal itu (cumbuan) pada suami. Seperti istri menciumnya dengan syahwat atau memandang padanya atau serupa dengan itu.

[6] Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, hlm. 29/355. Teks:

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ ـ وَهُوَ ظَاهِرُ الْمَذْهَبِ لِلْحَنَابِلَةِ ـ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ الاِسْتِمْتَاعُ بِالرَّجْعِيَّةِ وَالْخَلْوَةُ بِهَا وَلَمْسُهَا وَالنَّظَرُ إِلَيْهَا بِنِيَّةِ الْمُرَاجَعَةِ، وَكَذَلِكَ بِدُونِهَا مَعَ الْكَرَاهَةِ التَّنْزِيهِيَّةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، لأِنَّهَا فِي الْعِدَّةِ كَالزَّوْجَةِ يَمْلِكُ مُرَاجَعَتَهَا بِغَيْرِ رِضَاهَا

Artinya: Madzhab Hanafi berpendapat, pendapat ini juga dipilih oleh madzhab Hanbali, bahwa boleh bercumbu dengan istri yang ditalak raj'i dan khalwat dengannya, menyentuhnya, melihat padanya dengan niat rujuk. Begitu juga boleh tanpa niat rujuk tapi makruh tanzih menurut Hanafi.

0 komentar:

Post a Comment