Hot!

Sentuhan Suami Istri Batal Wudhu?

Sentuhan Suami Istri Batal Wudhu?
SENTUHAN KULIT DENGAN SUAMI MEMBATALKAN WUDHU?

Assalamualaikum wr.wb
Saya mau bertanya soal batal wudhu jika bersentuhan dengan suami. benarkah batal? karena bukan mahram.
Akan tetapi jika pergi haji berdua boleh dengan suami.
Demikian terima kasin
Wassalamuaalaikum wr.wb

JAWABAN

Pertama, benar karena anda dan mayoritas muslim Indonesia itu ikut madzhab Syafi'i. Batalnya wudhu karena bersentuhan dengan lawan jenis bukan mahram, termasuk suami, itu pendapat madzhab Syafi'i. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/29, menyatakan:

إذا التقت بشرتا رجل وامرأة أجنبية تشتهى، انتقض وضوء اللامس منهما، سواء كان اللامس الرجل أو المرأة، وسواء كان اللمس بشهوة أم لا، تعقبه لذة أم لا، وسواء قصد ذلك أم حصل سهوا أو اتفاقا، وسواء استدام اللمس أم فارق بمجرد التقاء البشرتين، وسواء لمس بعضو من أعضاء الطهارة أم بغيره، وسواء كان الملموس أو الملموس به صحيحا أم أشل، زائدا أم أصليا، فكل ذلك ينقض الوضوء عندنا، وفي كله خلاف للسلف.

Artinya: Apabila kulit pria dan wanita menarik bukan mahram bersentuhan, maka batal wudhu kedunya. Baik yang menyentuh itu pria atau wanita. Sama saja persentuhan itu disertai syahwat atau tidak. Disertai rasa enak atau tidak. Sama saja disengaja atau karena lupa atau sepakat. Baik lama atau sebentar. Menyentuh dengan anggota suci atau lainnya. Sama saja yang disentuh atau yang menyentuh atau sehat atau cacat. Anggota tubuh tambahan atau asli. Semua itu membatalkan wudhu menurut ulama madzhab Syafi'i. Ini berbeda dengan pandangan salaf.

Namun demikian, tiga madzhab fikih yang lain menyatakan tidak batal dengan rincian sbb:
a) Madzhab Hanafi menyatakan persentuhan pria wanita bukan mahram tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Ibnu Najim dalam Al-Bahr Al-Raiq, hlm. 1/85, menyatakan:

مس بشرة المرأة لا ينقض الوضوء مطلقا، سواء كان بشهوة أو لا.

Artinya: Menyentuh kulit wanita itu tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik karena syahwat atau tidak.

b) Madzhab Hanbali menyatakan persentuhan lelaki dan perempuan bukan mahram membatalkan wudhu apabila ada syahwat; dan tidak membatalkan wudhu apabila tidak syahwat. Al-Mardawi dalam Al-Inshaf, hlm. 2/42, menyatakan:

الخامس -يعني من نواقض الوضوء- أن تمس بشرته بشرة أنثى لشهوة، هذا المذهب، وعليه جماهير الأصحاب

Artinya: Perkara yang mebatalkan wudhu yang kelima adalah pria menyentuh kulit wanita dengan syahwat. Ini pendapat mayoritas ulama madzhab Hanbali.

c) Madzhab Maliki menyatakan: batal wudhunya apabila saat menyentuh itu bermaksud untuk mencumbu atau merasakan enak (taladzudz). Tidak batal wudhunya apabila tidak bermaksud demikian. (Lihat Syaikh Ulaisy dalam Minah Al-Jalil Syarah Mukhtashar Al-Jalil)

Kedua, apabila kita berada di Makkah saat menjalankan ibadah haji atau umroh, maka biasanya kita mengikuti madzhab lain dalam soal wudhu, misalnya madzhab Hanafi sehingga bersentuhan kulit dengan suami tidak membatalkan wudhu. Alasannya, karena saat tawaf kita diwajibkan tetap suci dari hadas kecil (punya wudhu). Itu akan sulit dilakukan kalau kita ikut madzhab Syafi'i soal ini. Baca detail: Haji dan Umroh

Mengikuti madzhab yang berbeda-beda atau talfiq itu tidak dilarang apabila diperlukan. Dalam arti, apabila hal itu dapat memberikan solusi pada permasalahan yang sedang dihadapi. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab

0 komentar:

Post a Comment