Hot!

Hukum Halal Haram Daging Biawak

Hukum Makan Daging Biawak
HUKUM DAGING BIAWAK

Assalamualaikum. Ana ingin bertanya apa hukumnya memakan daging biawak. Tetapi untuk obat bukan untuk di jadikan lauk.

JAWABAN

Ulama berbeda pendapat tentang hukum halal haramnya biawak (Latin: Varanus Griseus; Arab: waral - الورل). Yang menyatakan haram berargumen karena biawak termasuk jenis karnivora (pemakan daging - حيوان لاحم) dan tidak bisa disamakan dengan dhabb yang berjenis herbivora. Sebagian berpendapat biawak itu boleh karena sama dengan dhabb (Uromastyx -- الضب) dari segi bentuknya. Dan dabb itu dibolehkan secara ijmak oleh ulama karena ada dasar hadits sahihnya. Dengan demikian, maka boleh anda mengikuti pendapat yang menghalalkan. Apalagi kalau hanya buat obat.

URAIAN

dhab, dhob, dob

DEFINISI BIAWAK DAN DOB

Dalam kitab Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Syarh al-Minhaaj, hlm. 4/259, dijelaskan sebagai berikut:

قَوْلُهُ وَضَبٌّ: هُوَ حَيَوَانٌ يُشْبِهُ الْوَرَلَ يَعِيشُ نَحْوِ سَبْعَمِائَةِ سَنَةٍ وَمِنْ شَأْنِهِ أَنَّهُ لَا يَشْرَبُ الْمَاءَ وَأَنَّهُ يَبُولُ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً وَلَا يَسْقُطُ لَهُ سِنٌّ وَلِلْأُنْثَى مِنْهُ فَرْجَانِ وَلِلذَّكَرِ ذَكَرَانِ

Artinya: Keterangan binatang dhab: binatang dhab adalah binatang yang menyerupaibiawak yang mampu hidup sekitar tujuh ratus tahun, binatang ini tidak minum air dan ia kencing sekali dalam 40 hari, betinanya memiliki dua alat kelamin betina dan yang jantan pun juga memiliki dua alat kelamin jantan."

I. PENDAPAT YANG MENYATAKAN BIAWAK HALAL

Biawak dianggap halal karena bentuk fisiknya sama atau sejenis dengan dhabb yang dibolehkan oleh Nabi. Adapun dasar dari halalnya dhabb adalah sbb:

A) DISAMAKAN DENGAN DHABB

Hadits sahih riwayat Bukhari Nabi bersabda:

الضَبُّ لَسْتُ آكِلَهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ

“Aku tidak memakan dhab dan aku tidak mengharamkannya.” (HR. Bukhari)

Hadits kedua juga riwayat Bukhari:

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ , أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ الَّذِي يُقَالُ لَهُ : سَيْفُ اللَّهِ أَخْبَرَهُ , أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَهِيَ خَالَتُهُ وَخَالَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ , فَوَجَدَ عِنْدَهَا ضَبًّا مَحْنُوذًا قَدِمَتْ بِهِ أُخْتُهَا حُفَيْدَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ مِنْ نَجْدٍ , فَقَدَّمَتِ الضَّبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَكَانَ قَلَّمَا يُقَدَّمُ إِلَيْهِ الطَّعَامُ حَتَّى يُحَدَّثَ بِهِ وَيُسَمَّى لَهُ , فَأَهْوَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى الضَّبِّ , فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ النِّسْوَةِ الْحُضُورِ : أَخْبِرنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَدَّمْتُنَّ لَهُ , قُلْنَ : هُوَ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ , فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَنِ الضَّبِّ , فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ : أَحَرَامٌ الضَّبُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : " لا , وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي , فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ " ، قَالَ خَالِدٌ : فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ , وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيَّ فَلَمْ يَنْهَنِي .

Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas dari Khalid bin Walid bahwasanya ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Maimunah lalu didatangkan kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam daging dhab panggang, kemudian Beliau melayangkan tangannya kearah daging tersebut, lalu sebagian kaum wanita berkata : ‘Beritahu Rasulullah atas apa yang akan dimakannya’, Maka para sahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, itu adalah daging dhab’. Kemudian Beliau shallallahu‘alaihi wasallam mengangkat tangannya, lalu aku (Khalid) bertanya: “Apakah daging ini haram wahai Rasulullah ?’, Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di tanah kaumku dan aku memperbolehkannya. Khalid berkata: Aku memakannya sedangkan Rasulullah memandangku dan tidak mencegahku.” (HR. Bukhari)

B. ULAMA TABI'IN (SAID BIN AL-MUSAYYAB) MENGHALALKAN BIAWAK WALAUPUN BEDA DENGAN DHOB

Al-Dumairi dalam Hayat Al-Hayawan al-Kubro, hlm. 2/244, mengutip Abdur Rozzaq yang meriwayatkan pandangan Said bin Al-Musayyab (ulama Tabi'in, wafat: 94 H/715 M):

وقال ابن عبد البر، في التمهيد: ذكر عبد الرزاق قال: أخبرني رجل من ولد سعيد بن المسيب قال: أخبرني يحيى بن سعيد قال: كنت عند سعيد بن المسيب، فجاءه رجل من غطفان، فسأله عن الورل فقال: لا بأس به، وإن كان معكم منه شيء فاطعمونا منه. قال عبد الرزاق: والورل يشبه الضب

Artinya: Ibnu Abdil Bar berkata dalam kitab Al-Tamhid bahwa Abdur Rozzaq berkata: Seseorang meriwayatkan padaku dari anak Said bin Al-Musasyib ia berkata: Yahya bin Said bin Al-Musayib berkata: "Aku berada di dekat Said bin Al-Musayib. Lalu datang seorang lelaki dari Ghatafan. Lelaki itu bertanya tentang hukum biawak. Said bin Al-Musayib menjawab: Tidak apa-apa (boleh). Kalau engkau membawa daging biawak, hidangkan pada kami." Abdurrozzaq berkata: Biawak itu serupa dengan dhabb (latin: Uromastyx).

أنه سئل عنه فقال لا بأس به. ونقل القرطبي في التفسير عن مالك إباحته. وذكر عبد الرزاق أن الورل شبه الضب وهذا يفيد أن الورل حلال عند عبد الرزاق لأن الضب متفق على إباحته فقد أكل بحضرة النبي صلى الله عليه وسلم.

Artinya: Said bin Al-Musayab ditanya tentang biawak. Ia menjawab: tidak apa-apa. Al-Qurtubi menukil dalam Tafsir Al-Qurtubi pendapat Imam Malik tentang bolehnya biawak. Abdur Rozzaq menuturkan bahwa

C. PENDAPAT IMAM MALIK: DHAB DAN BIAWAK SAMA HALALNYA

Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi, hlm. 7/120, mengutip pandangan Imam Malik (pendiri Madzhab Maliki)

وقال مالك: لا بأس بأكل الضب واليربوع والورل

Artinya: Imam Malik berkata: Boleh memakan dhab, jerboa (hewan pengerat sejenis tikus), dan biawak.

Imam Rafi'i menyatakan (lihat, Hayat Al-Hayawan al-Kubro, hlm. 2/541):

ورجح الرافعي أنه قال يرجع فيه إلى استطابة العرب وعدمها

Artinya: Imam Rafi'i mengunggulkan pandangan bahwa hukum biawak itu tergantung dari dianggap baik atautidaknya oleh orang Arab

II. PANDANGAN YANG MENGHARAMKAN BIAWAK

Ulama yang mengharamkan biawak umumnya adalah ulama muta'akhirin. Mereka menganggap hukum dhab dan biawak berbeda karena walaupun secara fisik sama tapi kebiasaannya berbeda: dhab herbivora (pemakan tumbuhan) sedangkan biawak karnivora (pemakan daging). Karena pemakan daging, maka disamakan dengan binatang buas yang lain yaitu haram. Berdasarkan hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi, “Setiap yang bertaring dari binatang buas, maka memakannya adalah haram”. [HR. Muslim no. 1.933]
Baca detail: Hukum Daging Trenggiling

0 komentar:

Post a Comment