Hot!

Other News

More news for your entertainment

Istri Boleh Tak Taat Suami yg Tak Beri Nafkah

Istri Boleh Tidak Taat Suami yg Tak Beri Nafkah
ISTRI BOLEH TIDAK TAAT SUAMI YANG TIDAK MENAFKAHI

Assalamualaikum
Saya mau tanya ustadz, sy muslimah umur 26 tahu. Saya sudah menikah dengan suami sidah 3 tahun . Sy memiliki anak balita umur 2 tahun.

Tahun ke 2 pernikahan kami, kami diuji dengan suami yg suka judi online, bahkan tabungan kami habis dijudikannya. Dan hutang dimana2 gara2 judi. Suami sy tipikal suami kasar, kasar dalam artian ucapan bukan tangan. Jika dia marah dia suka mencaci maki menghina say dg sebutan binatang dan tidak jarang dia mengancam akan membunuh sy dg mengambil pisau. Tapi jika 2 3 jam kemudian dia minta maaf dan bilang itu khilaf bercanda dan lain2. Tapi ustadz itu dilakukan berkali2 seprti iti dia bilang mau berubah dan minta maaf tp selalu dilakukan berulang.

Jd skrg sy meninggalkan dia pulang kerumah ortu saya. Dia meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Tp sy sulit percaya. Belum sampe 1 bulan dia mengulanginya lg. Dia masih berjudi, masih kasar sama saya.

Jd pertanyaan nya berdosa kah sy pisah ranjang dan rumah dg suami pak ustadz... Karena sy masih berfikir untuk menerima dia kembali. Assalamualaikum. Mhon jawabannya

JAWABAN

Apabila suami tidak lagi memenuhi kewajibannya sebagai suami dalam segi memberi nafkah, maka istri boleh menolak melayani suami dalam hubungan intim. Termasuk juga boleh pisah ranjang. Bahkan pisah rumah. Dan suami tidak boleh menghalanginya.

Al Syirazi dalam Al Muhadzab, hlm. 3/155, menyatakan:

وإن اختارت المقام بعد الإعسار ، لم يلزمها التمكين من الاستمتاع، ولها أن تخرج من منزله ، لأن التمكين في مقابلة النفقة ، فلا يجب مع عدمها
Artinya: Apabila istri memilih untuk tetap tinggal bersama suami setelah tidak ada nafkah, maka tidak wajib bagi istri untuk memenuhi permintaan hubungan intim. Istri boleh keluar dari rumah suami. Karena memenuhi permintaan suami itu sebagai ganti dari nafkah, maka tidak wajib apabila tidak ada nafkah.

Dalam Syarah Al Muhadzab, hlm. 20/169, dinyatakan:

"إذا ثبت إعسار الزوج خيرت بين ثلاثة أشياء : بين أن تفسخ النكاح ، وبين أن تقيم معه وتمكنه من الاستمتاع بها ، ويثببت لها في ذمته ما يجب على المعسر من النفقة ، وبين أن تقيم على النكاح ، ولكن لا يلزمها أن تمكنه من نفسها ، بل تخرج من منزله ، لأن التمكين إنما يجب عليها ببذل النفقة ، ولا نفقة هناك ، ولا تستحق في ذمته نفقة في وقت انفرادها عنه ، لأن النفقة إنما تجب في مقابلة التمكين من الاستمتاع ، ولا تمكين منها له" انتهى .

Artinya: Apabila suami miskin (tidak mampu menafkahi), maka istri memiliki tiga pilihan: a) melakukan fasakh nikah; b) tetap bersama suami dan membolehkan suami untuk hubungan intim dengan menganggap hutang kewajiban nafkah suami; c) tetap menikah dengan suami akan tetapi tidak wajib baginya untuk memenuhi keinginan suami. Bahkan boleh baginya keluar dari rumah suami. Karena kewajiban istri untuk bersedia dicumbu suami itu sebagai ganti dari nafkah suami, sedangkan nafkah tidak ada. Dan istri tidak berhak mendapat nafkah saat dia sedang sendiri berpisah dari suami. Karena nafkah itu wajib bagi suami sebagai ganti dari kebersediaan istri untuk hubungan intim.

Dalam kondisi di mana suami tidak mampu menafkahi istri, maka suami tidak boleh mengatur atau melarang istri untuk melakukan apa yang dia kehendaki. Al-Bahuti dalam Kasyaf Al Qina', hlm. 5/477, menyatakan:

" (وَلَهَا الْمَقَامُ) عَلَى النِّكَاحِ (وَمَنْعُهُ مِنْ نَفْسِهَا فَلَا يَلْزَمُهَا تَمْكِينُهُ وَلَا الْإِقَامَةُ فِي مَنْزِلِهِ وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَحْبِسَهَا بَلْ يَدَعَهَا تَكْتَسِبُ وَلَوْ كَانَتْ مُوسِرَةً) لِأَنَّهُ لَمْ يُسَلِّمْ إلَيْهَا عِوَضَ الِاسْتِمْتَاعِ" انتهى

Artinya: Istri boleh mempertahankan rumah tangga dan menolak suami dari dirinya. Tidak wajib bagi istri untuk mentaati suami dan tinggal di rumahnya. Dan wajib bagi suami untuk tidak melarangnya bahkan suami harus membiarkan istri bekerja walaupun istri kaya karena suami tidak menyerahkan pengganti istimta' (bersenang-senang, hubungan intim) pada istri.

Baca detail:
- Hak dan Kewajiban Suami Istri
- Hak Istri dan Kewajiban Suami
- Batasan Taat Istri Pada Suami

**

ISTRI TIDAK DIBERI NAFKAH, HARUSKAH TETAP TAAT SUAMI?

Assalamualaikum wr wb.
Saya ingin berkonsultasi dalam masalah rumah tangga. Saya sudah menikah kurang lebih 6 bulan. Sekarang saya lagi hamil 4 bulan. Yang ingin saya tanyakan apakah masih berlaku hukum istri taat pada suami, sedangkan suami tidak memenuhi kewajibannya yaitu mencari nafkah sebagai kepala rumah tangga. Saya berusaha sabar selama 6 bulan.

Tapi, lama kelamaan saya ingin berontak. Karna saya tidak mendapatkan hak saya, padahal saya sudah menjalankan kewajiban saya sebagai istri. Saya sempat berfikir untuk menyudahi pernikahn ini. Karna saya merasa malu dengan orang tua saya, tidak ada bedanya sebelum menikah dengan sesudah menikah, masih menumpang orang tua.
Di sisi lain saya tidak ingin menjadi istri yang membangkang kepada suami, tapi suami tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya.

Sedangkan saya merasa mendapat tekanan dari orang tua karna suami tidak mau berusaha mencari nafkah. Meskipun pernikahan ini hasil dari pilihan orang tua, saya berusaha menutupi kekurangan suami.

Mohon dengan sangat solusinya . Saya tidak ingin masalah ini berdampak pada kehamilan saya.
Terima kasih sebelumnya, saya mohon maaf atas kekurangan tulisan sebelumnya.

JAWABAN

Kalau suami tidak pernah menafkahi istri, maka istri mempunyai pilihan untuk meminta cerai atau melakukan gugat cerai ke pengadilan agama apabila suami menolak menceraikannya secara lisan. Namun itu pilihan. Istri boleh juga memilih untuk tetap bertahan. Baca detail: Cerai dalam Islam

Atau, istri boleh tetap mempertahankan rumah tangga tanpa ada kewajiban untuk taat pada suami. Termasuk boleh pisah ranjang bahkan pisah rumah atau bekerja tanpa harus ijin suami.


**

SUAMI TIDAK MEMBERI NAFKAH

Assalamu Alaikum Pak Ustad.
Sy sdh.menjalani berumah tangga selama 3 Tahun.Tahun ke 1 ekonomi.baik baik saja dan suami msh bekerja. menafkahi. tahun ke 2 Ekonomi memburuk. suami sdh tidak bekerja dan tdk bisa menafkahi.lg. akhirnya sy yg kembali bekerja
Dan smapai.skrg.sy yg menjadi tulang punggung keluarga.Suami sdh berusaha mencari kerja kesana kemari tp blm ada hasilnya.

Bagaimana pak sikap sy sbg istri krna saat skrg sy yg menjadi tulang punggung keluarga sdh 2 tahun sampai skrg dg anak 3... terima kasih bapak Sbelumnya

JAWABAN

Pilihan ada di tangan anda. Kalau suami tidak lagi menafkahi anda, maka secara negara dan agama anda boleh meminta cerai. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tak Cinta

Namun, kalau anda bisa mencintainya, maka pilihan berikutnya adalah tetap mempertahankan rumah tangga. Toh suami sudah berusaha untuk bekerja hanya belum dapat peluang pekerjaan. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

Cara Sembuh Was-was Najis Kencing, Wudhu dan Shalat

Cara Sembuh Was-was Najis Kencing, Ibadah dan Iman
CARA SEMBUH DARI WAS-WAS NAJIS KENCING

Assalamuallaikum
Begini Bapak / Ibu. Saya ingin bertanya dan meminta jawaban juga saran. Jadi begini saya beberapa minggu ini dibuat was was.

Akhir-akhir ini saya sering kencing dan setiap kencing pasti bisa-bisa menghabiskan banyak air dan kadang ganti pakaian. Jadi saat akan bilas air ke kemaluan saya kadang bisa sampai 4 gayung dan bisa lebih bila setelah merasa bersih tiba2 terasa seperti keluar kembali. Sampai basah pakaian dalam saya setiap bilas. Karena yg saya khawatirkan apabila perasaan saya merasa belum bersih maka masih najis dan apabila tidur di kasur dll maka benda2 yg bersentuhan dengan celana saya jg ikut najis. Karena pernah saya lawan perasaan yg merasa masih najis itu dan dikepala saya serasa beban belum suci, najis dll. Nah kadang setelah selesai lalu saya pakai lagi celana disitu kadang terasa ada sesuatu yg keluar.

1. Saya binggungnya itu air kencing yang keluar ataukah karena pakaian dalam saya yang basah. Maaf belum bisa berfikir jernih saat keadaan seperti ini. Mohon bantuanya ya Bapak / Ibu. Satu lagi Bapak / Ibu.

2. Bagaiaman hukumnya najis yang sudah kering. Apakah jika disentuh tetap najis atau sudah tidak.
Terimakasih dan mohon maaf apabila panjang.
Wassalamuallaikum

JAWABAN

Anda tengah menderita was-was kencing. Dalam kasus anda, ada dua cara yang harus dilakukan agar sembuh dari was-was kencing. Pertama, mengikuti saran Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Nawawi yakni dengan membasahi celana (celana dalam kalau biasa pakai celana dalam; celana luar kalau tidak biasa pakai celana dalam) sedikit setelah bersuci (cebok) dari kencing. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/115, menyatakan:


. ويستحب أن ينضح على فرجه وسراويله ليزيل الوسواس عنه. قال حنبل سألت أحمد بن حنبل قلت: أتوضأ وأستبرئ وأجد في نفسي أني قد أحدثت بعده قال: إذا توضأت فاستبرئ ثم خذ كفا من ماء فرشه على فرجك ولا تلتفت إليه فإنه يذهب إن شاء الله. انتهى. .

Artinya: Disunnahkan untuk menyiram kemaluan dan celananya untuk menghilangkan was-was. Hanbal berkata, "Aku bertanya pada Ahmad bin Hanbal: Aku berwudhu dan bersuci. Lalu aku melihat aku hadas lagi (keluar air kencing lagi) setelahnya." Ahmad bin Hanbal menjawab, "Apabila engkau berwudhu, maka bersucilah (dari kencing) lalu ambillah segenggam air, lalu siramkan ke kemaluanmu dan jangan melihatnya lagi. Maka, was-was-mu akan hilang insyaAllah."

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk, hlm. 2/130, menyatakan hal serupa:


يستحب أن يأخذ حفنة من ماء فينضح بها فرجه وداخل سراويله وإزاره بعد الاستنجاء دفعا للوسواس. انتهى

Artinya: Sunnah mengambil segenggam air lalu disiramkan ke kemaluan dan celana dalam dan sarung setelah bersesuci (cebok) untuk mencegah was-was."

Kedua, obat Was-was adalah dengan mengabaikannya dan berpaling darinya

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah ala Al-Madzhab Al-Syafi'i, hlm. 1/149, menyatakan:

وسئل : عن داء الوسوسة هل له دواء ؟ فأجاب بقوله: له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية وإن كان في النفس من التردد ما كان فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت بل يذهب بعد زمن قليل كما جرب ذلك الموفقون وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تخرجه إلى حيز المجانين بل وأقبح منهم كما شاهدناه في كثير ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها الذي جاء التنبيه عليه منه صلى الله عليه وسلم بقوله: اتقوا وسواس الماء الذي يقال له الولهان.

وجاء في الصحيحين ما يؤيد ما ذكرته ، وهو أن من ابتلي بالوسوسة (فليستعذ بالله ولينته) . فتأمل هذا الدواء النافع الذي علّمه من لا ينطق عن الهوى لأمته

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah ala Al-Madzhab Al-Syafi'i, hlm. 1/149, menyatakan:

Artinya: Al-Haitami ditanya adakah obat bagi penyakit was-was? Ia menjawab: Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu mengabaikan atau berpaling darinya secara total. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendirinya dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya seperti orang gila atau lebih parah dari orang gila. Sebagaimana yang pernah kami lihat pada banyak orang yang mengalami cobaan keraguan ini, sementara dia memperhatikan bisikan was-wasnya dan ajakan setannya yang mana telah diingatkan oleh Nabi dalam hadits: "Takutlah kalian akan was-was air yang disebut walhan." Dalam hadis sahihain (Bukhari dan Muslim) terdapat sabda Nabi yang menguatkan apa yang saya sebut di atas. Yakni, bahwa orang yang menderita was-was "hendaknya memohon perlindungan pada Allah dan berhenti." Maka, renungkanlah obat bermanfaat ini yang telah diajarkan oleh Nabi pada umatnya yang ucapannya tidak keluar dari hawa nafsu.

Ibnu Hajar mengingatkan kita semua dengan menambahkan:

واعلم أن من حُرمه فقد حُرم الخير كله ; لأن الوسوسة من الشيطان اتفاقا , واللعين لا غاية لمراده إلا إيقاع المؤمن في وهدة الضلال والحيرة ونكد العيش وظلمة النفس وضجرها إلى أن يُخرجه من الإسلام . وهو لا يشعر ( أن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا ) فاطر / 6 . وجاء في طريق آخر فيمن ابتلي بالوسوسة فليقل : آمنت بالله وبرسله . ولا شك أن من استحضر طرائق رسل الله سيما نبينا صلى الله عليه وسلم وجد طريقته وشريعته سهلة واضحة بيضاء بينة سهلة لا حرج فيها ( وما جعل عليكم في الدين من حرج ) الحج / 78 , ومن تأمل ذلك وآمن به حق إيمانه ذهب عنه داء الوسوسة والإصغاء إلى شيطانها . وفي كتاب ابن السني من طريق عائشة : رضي الله عنها " من بلي بهذا الوسواس فليقل : آمنا بالله وبرسله ثلاثا , فإن ذلك يذهبه عنه " .

Artinya: ... was-was itu berasal dari setan menurut kesepakatan ulama.


Ibnu Hajar Al-Haitami juga mengutip pandangan Al-Izz bin Abdussalam dll tentang obat sembuh dari was-was di mana ia menyatakan:

دواء الوسوسة أن يعتقد أن ذلك خاطر شيطاني، وأن إبليس هو الذي أورده عليه، وأن يقاتله فيكون له ثواب المجاهد، لأنه يحارب عدو الله، فإذا استشعر ذلك فرَّ عنه، وأنه مما ابتلي به نوع الإنسان من أول الزمان وسلطه الله عليه محنة له ليحق الله الحق ويبطل الباطل ولو كره الكافرون..

Artinya: Obat was-was adalah dengan meyakini bahwa was-was adalah perasaan setan yang dibawa oleh iblis. Dan bahwa memerangi was-was itu pahalanya sama dengan pahala mujahid karena memerangi musuh Allah. Apabila merasa diserang was-was, maka larilah darinya. Dan bahwa was-was termasuk penyakit yang diderita manusia sejak dulu...

Ibnu Hajar Al Haitami kemudian mengomentari ucapan Al-Izzi di atas:

وبه تعلم صحة ما قدمته أن الوسوسة لا تسلط إلا على من استحكم عليه الجهل والخبل وصار لا تمييز له، وأما من كان على حقيقة العلم والعقل فإنه لا يخرج عن الاتباع ولا يميل إلى الابتداع...

Artinya: Dari sini maka anda tahu penjelasan yang sudah saya berikan bahwa was-was itu tidak bisa menguasai kecuali pada orang yang dikuasai kebodohan dan ilusi. Adapun orang yang berilmu dan berakal yang hakiki maka dia tidak akan keluar dari mengikuti langkah Rasul dan menjauh dari bid'ah (yg buruk).

Ibnu Hajar Al Haitami kemudian mengutip dari Imam Nawawi

ونقل النووي عن بعض العلماء أنه يستحب لمن بلي بالوسواس في الوضوء أو الصلاة أن يقول: لا إله إلا الله. فإن الشيطان إذا سمع الذكر خنس، أي تأخر وبعد، ولا إله إلا الله رأس الذكر وأنفع علاج في دفع الوسوسة الإقبال على ذكر الله تعالى والإكثار منه

Artinya: Sunnah bagi yang terkena was-was wudhu atau shalat mengatakan: "Lailaha illAllah" karena setan ketika mendengar dzikir maka ia akan mundur dan menjauh. Sedangkan kalimat Lailahaillallah adalah induk dari dzikir dan obat paling bermanfaat untuk menolak was-was adalah berdzikir pada Allah dan memperbanyak dzikir.

Dalam hadis sahih riwayat Muslim Usman bin Abil Ash mengisahkan:

إن الشيطان حال بيني وبين صلاتي وقراءتي فقال : ذلك شيطان يقال له خنزب , فتعوذ بالله منه واتفل عن يسارك ثلاثا , ففعلت فأذهبه الله عني

Artinya: Setan menghalangi antara aku dan shalatku dan bacaanku. Lalu Nabi bersabda: Itu adalah setan bernama Khinzib. Berta'awudz-lah pada Allah darinya (ucapkan adzubullahi minasy syaitonir rojim) dan berpaling ke kirimu tiga kali. Lalu aku melakukan itu maka Allah menghilangkan was-was itu dariku.

Ibnu Hajar Al Haitami mengutip Imam Malik

قال مالك - رحمه الله - عن شيخه ربيعة - إمام أهل زمنه - : كان ربيعة أسرع الناس في أمرين في الاستبراء والوضوء , حتى لو كان غيره - قلت : ما فعل . ( لعله يقصد بقوله : ( ما فعل ) أي لم يتوضأ )

وكان ابن هرمز بطيء الاستبراء والوضوء , ويقول : مبتلى لا تقتدوا بي .

Artinya: Imam Malik berkata tentang gurunya Rabi'ah, Imamnya umat pada zamannya: Rabi'ah adalah orang yang paling cepat dalam dua perkara yaitu dalam bersuci dan berwudhu. Sehingga ada yang mengatakan bahwa dia tidak berwudhu atau tidak bersesuci.

Semoga dengan kedua cara di atas was-was kencing anda bisa sembuh.
Baca detail:
- Cara Bersuci (Istinjak) BAB dan Kencing
- Kencing Berdiri atau Duduk?
- Percikan Kencing Najis yang Dimakfu?

2. Najis kering tidak menularkan najis apabila pihak satunya juga kering. Misalnya, ada najis kering di celana, lalu disentuh oleh tangan yang juga kering maka tangan tidak najis. Namun kalau salah satu sisi ada yang basah maka najisnya menular. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Hukum Muntah

Hukum Muntah
HUKUM MUNTAHAN SEDIKIT KARENA PENYAKIT GERD

Assamualaikum wr. Wb.,

Saya ingin bertanya tentang muntah sedikit yang sangat/terlalu sering:

Saya punya indikasi penyakit yg disebut GERD, yaitu melemahnya sekat yg mencegah makanan di lambung kembali ke mulut. Akibatnya mulut sering sekali terasa pahit (rasa asam lambung itu pahit) atau malah sedikit muntah (tapi tidak sampai memenuhi mulut).

Yang saya pahami muntah itu najis. Dan harus berkumur. Namun rasa pahit dan muntah sedikit itu terlalu sering sehingga sangat merepotkan jika harus selalu berkumur.

Apakah kondisi demikian harus tetap selalu berkumur atau di ma'fu?

Saya khawatir jika saya bicara ludah (maaf) muncrat sehingga najis muntah menular kemana2 ... betul2 sangat merepotkan.

Terima kasih.

JAWABAN

Ulama dari keempat madzhab sepakat atas najisnya muntah. Termasuk madzhab Syafi'i. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Namun demikian, ada pengecualian dalam kondisi yang lebih detail. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, hlm. 2/551, menyatakan:

نجاسة القيء متفق عليها ، وسواء فيه قيء الآدمي وغيره من الحيوانات .. وسواء خرج القيء متغيراً أو غير متغير ، وقيل : إن خرج غير متغير فهو طاهر ، وهو مذهب مالك

Artinya: “Najisnya muntah adalah perkara yang disepakati atasnya, baik muntah manusia ataupun muntahnya binatang...baik keluar dengan berubah ataupun tidak. Dan ada yang berpenpendapat bahwa kalau tidak berubah maka muntah itu suci dan ini madzhabnya Maliki.”

Hal ini, kesucian muntah, ditegaskan oleh ulama madzhab Maliki bernama Al-Qarrafi dalam Adz-Dzakhirah, hlm. 1/185, di mana ia menyatakan :

الْقَيْءُ وَالْقَلْسُ طَاهِرَانِ إِنْ خَرَجَا عَلَى هَيْئَةِ طَعَامٍ

Artinya: “muntah dan qalas (sejenis muntah) keduanya adalah suci apabila keluar dalam keadaan dalam bentuk makanan.”

Jadi, keluarnya muntah apabila sedikit dan masih dalam bentuk makanan itu hukumnya suci.

MAKNA QALAS

Muntah menurut ulama fikih terbagi menjadi dua yaitu al-qay' yakni muntah yang biasa terjadi dan al-qalas yaitu muntah kecil.

Ulama fikih mendefinisikan al-qay' sbb:

الخارج من الطعام بعد استقراره في المعدة.

Artinya: Makanan yang keluar setelah menetap di perut.

Sedangkan al-qalas menurut ulama fikih adalah:

القلس ماء أو طعام يسير يخرج من الفم، فالصلة بينهما أن القلس دون القيء.

Artinya: "Al-qalas adalah air atau makanan yang sedikit yang keluar dari mulut. Al-qalas levelnya di bawah muntah."

MUNTAH YANG BELUM BERUBAH

Al Mutawalli dalam kitab Al-Tatimmah menyatakan:

إن خرج غير متغير فهو طاهر، وهو الذي جزم به المتولي وهو مذهب مالك، والصحيح الأول، وبه قطع الجماهير

Artinya: Apabila muntah yang keluar itu tidak berubah maka hukumnya suci.

Dari ulasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa muntah yang sedikit dan tidak berubah itu hukumnya suci. Sedangkan muntah yang sedikit tapi sudah berubah, maka mayoritas ulama menyatakan najis, sedangkan madzhab Maliki menyatakan suci.

Bagi anda yang sering keluar muntah kecil ini, maka bisa mengikuti pandangan madzhab Maliki ini untuk menghindari masyaqqah (kesulitan).

STATUS WUDHU ORANG YANG MUNTAH

Adapun status wudhu dari orang yang muntah adalah sebagai berikut:

a) Madzhab Maliki dan Syafi'i menyatakan bahwa muntah tidak berakibat batalnya wudhu. Baik muntah itu banyak atau sedikit.

b) Madzhab Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwa muntah yang banyak membatalkan wudhu, sedangkan muntah yang sedikit tidak membatalkan wudhu.
Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib


ADA ANJING DI RUMAH SAUDARA

Assalamu'alaikum Ustadz..
Saya mau bertanya
Awalnya saya main ke rumah saudara nah setelah didalam rumahnya, ada anjing masuk ke dalam rumah dan menginjak lantai rumah tersebut, kemudian saya pulang melewati lantai yang sudah diinjak dan terlewati oleh anjing tersebut,
Apakah telapak kaki saya yang menginjak lantai tersebut jadi najis? Tapi keadaan telapak kaki saya tidak basah
Demikian, terimakasih Pa Ustadz, Smoga Allah slalu melindungi ustadz dimanapun berada
Wassalamualaikum..

JAWABAN

Kalau kaki anjingnya kering dan lantai juga kering, maka hukumnya lantai tidak najis. Kalau pun lantainya najis tapi dalam keadaan kering dan kaki anda kering, maka kaki anda tidak terkena najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Perlu juga diketahui bahwa najis anjing itu terdapat perbedaan ulama dalam soal bagian anggota tubuh anjing yang mana yang najis. Baca detail: Najis Anjing Menurut Empat Madzhab

NAJIS ANJING DI JALAN

Asslamualaikum ustad,saya mau tanya lagi mengenai najis anjing,jdi saya kerja di salah satu mall di jakrta, depan mall tersebut trotoar buat jalan orang, kalau siang ada polisi yg bawa anjing lewat sepanjang trotoar tersebut, anjingnya yg ngejulurin lidahnya,
Nah tadi trotoarnya lagi di bersihin, lagi di sikat pakai air sma petugas kebersihanya, saya lewat di trotoar yg basah itu, najis tidak ustad??

JAWABAN

Tidak najis. Najis di jalanan itu hukumnya dimakfu (dimaafkan). Baca detail: Najis di Jalanan

KOTORAN CICAK JATUH KE LAPTOP

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya mau tanya apa yang harus kita lakukan kalau kotoran cicak kering tertiup angin kemudian jatuh ke laptop? Apa hukumnya? Mohon bantuannya.

JAWABAN

Kotoran cicak hukumnya najis tapi termasuk kategori najis yang dimakfu atau dimaafkan.
Baca detail:
- Najis yang Dimaafkan (Makfu)
- Najis Makfu dan Kaitannya dg Shalat


Hukum Pakai Celana dalam Saat Ihram Haji atau Umrah

Hukum Pakai Celana dalam Saat Ihram
HUKUM MEMAKAI CELANA DALAM SAAT IHRAM HAJI ATAU UMRAH BAGI LAKI-LAKI

Assalamu'alaikum

Izin bertanya pak ustadz

1. Jika ragu kain ihram terpercik air seni apa kaidah yang harus dilakukan dalam agama islam pak ustadz ?

2. bolehkah saat memakai kain ihram saya pakai celana dalam ?

JAWABAN

1. Asumsi adanya percikan dianggap tidak ada. Oleh karena itu, kain ihram dianggap suci kecuali terbukti jelas terlihat ada air kencing yang mengena kain ihram. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

2. Ringkasan: memakai celana dalam tidak boleh bagi muhrim (orang ihram) laki-laki karena Islam melarang bagi muhrim memakai seluruh pakaian yang berjahit termasuk celana, baju, dan celana dalam, dll. Namun bagi yang ada udzur syar'i, maka dibolehkan tanpa harus membayar kafarat dalam madzhab Syafi'i. Saat ini, telah diproduksi celana dalam tidak berjahit, yang menurut fatwa ulama Mesir boleh dipakai saat ihram.

URAIAN

Ulama sepakat akan tidak bolehnya memakai pakaian yang berjahit bagi laki-laki saat ihram baik ihram haji atau umrah. Namun ulama berbeda pendapat terkait celana dalam. Dalam sebuah hadits seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, apakah pakaian yang boleh dipakai oleh orang yang sedang ihram?" Beliau menjawab,

لاَ يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ الْقَمِيْصَ وَلاَ السَّرَاوِيْلَ وَلاَ البُرْنُسَ وَلاَ الْخُفَّيْنِ إِلاَّ أَنْ لاَ يَجِدَ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ مَا هُوَ أَسْفَلُ مِن الْكَعْبَيْنِ

Artinya: "Orang yang sedang berihram tidak boleh memakai pakaian, celana, burnus (jubah yang mempunyai tutup kepala) dan khuf (kaos kaki kulit). Namun jika ia tidak mempunyai sepasang sandal, maka hendaknya ia memakai khuf yang lebih rendah dari mata kaki." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 3/402, menyatakan:

" قال عياض : أجمع المسلمون على أن ما ذُكر في هذا الحديث لا يلبسه المحرم ، وأنه نبَّه بالقميص والسراويل على كل مخيط ، وبالعمائم والبرانس على كل ما يغطي الرأس به مخيطاً أو غيره ، وبالخفاف على كل ما يستر الرجل . انتهى . وخصَّ ابن دقيق العيد الإجماع الثاني بأهل القياس ، وهو واضح . والمراد بتحريم المخيط : ما يلبس على الموضع الذي جعل له ، ولو في بعض البدن " انتهى.

Artinya: Iyadh berkata: Ulama sepakat (ijmak) bahwa hadis ini menjelaskan pakaian yang tidak boleh dipakai oleh orang yang ihram (muhrim). Bahwa larangan memakai gamis dan celana itu meliputi larang pada setiap pakaian yang dijahit. Termasuk surban dan burnus yang menutup kepala baik dijahit atau tidak. Dan larangan memakai khuf meliputi sesuatu yang menutup kaki. Ibnu Daqiq mengkhususkan ijmak dengan ahli qiyas. Yang dimaksud dengan haramnya pakaian berjahit yaitu pakaian yang dipakai berdasarkan bentuk tubuh walaupun untuk sebagian badan.

HUKUM MEMAKAI CELANA DALAM BAGI MUHRIM

Namun terkait celana dalam, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pertama, ada yang menyatakan tidak boleh berdasarkan pada keumuman hadis di atas. Yakni, bahwa celana dalam termasuk jenis pakaian yang dijahit dan dipotong berdasarkan bentuk badan.

Kedua, ada pula yang menyatakan boleh berdasarkan pada pandangan Aisyah (Atsar Sahabat) yang membolehkan bagi muhrim (orang yang ihram) memakai tubban yakni celana dalam yang menutupi kemaluan dan Sahabat Ammar bin Yasir juga pernah memakainya.

Dalam Sahih Bukhari, hlm. 2/558, Bukhari berkata sbb:

باب الطيب عند الإحرام وما يلبس إذا أراد أن يحرم... ولم تر عائشة رضي الله عنها بالتُبَّانِ بأساً للذين يرحلون هودجها .
انتهى

Artinya: Bab tentang minya wangi saat ihram dan perkara yang dipakai apabila hendak ihram ... Aisyah berpendapat tidak apa-apa memakai tubban bagi yang naik kendaraan dan duduk di pelana unta.

Dalam menjelaskan pandangan Bukhari ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, hlm. 3/397, menyatakan:

" وقد وصل أثر عائشة : سعيد بن منصور ، من طريق عبد الرحمن بن القاسم عن أبيه عن عائشة : " أنها حجت ومعها غلمان لها ، وكانوا إذا شدوا رحلها يبدو منهم الشيء ، فأمرتهم أن يتخذوا التبابين ، فيلبسونها وهم محرمون " .
وفي هذا رد على ابن التين في قوله " أرادت النساء " ؛ لأنهن يلبسن المخيط ، بخلاف الرجال ، وكأن هذا رأي رأته عائشة ، وإلا فالأكثر على أنه لا فرق بين التبان والسراويل في منعه للمحرم ".

Artinya: "Aisyah melakukan ibadah haji bersama beberapa pria asistennya. Mereka apabila terasa berat dalam perjalanan maka tampak sesuatu dari mereka. Lalu Aisyah memerintahkan mereka untuk memakai tubban (celana dalam). Lalu mereka memakainya dalam keadaan ihram. Riwayat ini merupakan sanggah atas pandangan Ibnut Tin yang menyatakan "konteksnya adalah kaum wanita". Karena wanita memang boleh memakai pakaian berjahit. Ini tampaknya pendapat dari Aisyah. Sebab kalau tidak, maka kebanyakan tidak ada beda antara tubban dan celana dalam segi terlarang bagi muhrim."

Ulama yang tidak setuju dengan kebolehan ini berargumen bahwa sikap Aisyah itu dibolehkan dalam keadaan darurat. Karena terbukanya aurat kaum lelaki dan sama sekali tidak menunjukkan kebolehan memakainya tanpa darurat.

Ada juga riwayat di mana seorang Sahabat bernama Ammar bin Yasir yang memakai tubban saat ihram. Ibnu Abi Syaibah dalam Musonnaf Ibnu Abi Syaibah, hlm. 6/34, menyatakan:

: رأيت على عمار بن ياسر تُبَّاناً ، وهو بعرفات .

Artinya: Aku melihat Ammar bin Yasir memakai tubban saat di Arafah.

Kisah ini tampaknya dalam konteks keadaan darurat. Karena, ternyata Ammar bin Yasir melakukan itu disebabkan oleh penyakit beser yang dideritanya di era Usman bin Affan sehingga dia tidak bisa menahan kencing. Hal ini disebutkan dalam kitab Akhbarul Madinah (hlm. 3/1100) ada ucapan "فلا يستمسك بولي"

Dalam kitab An-Nihayah fi Gharib Al-Atsar (hlm. 2/126) disebutkan riwayat bahwa Ammar menderita penyatakan kencing. Dalam hadis Abdu Khair ia berkata:

رأيت على عمار دقرارة ، وقال : " إني ممثون "

Artinya: Aku melihat Ammar memakai celana dalam. Ammar berkata: Aku menderita penyakit kencing.

Kesimpulan: memakai celana dalam yang berjahit tidak boleh pada saat sedang ihram. Baik Ihram umrah atau ihram haji kecuali dalam keadaan darurat.

Apabila dalam keadaan darurat, maka boleh memakainya tanpa harus membayar fidyah/kafarat. Ibnu Hajar Al Haitami (madzhab Syafi'i) dalam Al-Fatawa menyatakan:

فقد سئل ابن حجر الهيتمي - رحمه الله تعالى - عن شد الذكر من أجل السلس، هل فيه فدية أم لا؟ فأجاب بقوله: لا فدية عليه بالشد المذكور؛ لأمور: منها قولهم: كل محظور في الإحرام أبيح للحاجة فيه الفدية، إلا نحو السراويل، والخفين؛ لأن ستر العورة، ووقاية الرجل من النجاسة مأمور بهما لمصلحة الصلاة، وغيرها، فخفف فيها.

Artinya: Ibnu Hajar Al Haitami ditanya tentang menutup kemaluan karena beser apakah harus bayar fidyah? Ia menjawab: Tidak wajib membayar fidyah karena beberapa hal: a) setiap yang dilarang dalam ihram itu dibolehkan apabila ada hajat dengan membayar fidyah kecuali yang sejenis celana dan kaus kaki (maka tidak wajib fidyah). Karena menutup aurat dan menjaga kaki dari najis itu diperintahkan untuk kemaslahatan shalat dan lainnya. Maka diringankan dari fidyah.

Namun Al Mardawi (madzhab Hanbali) dalam Al-Inshaf menyatakan harus membayar fidyah:

إذَا احْتَاجَ إلَى فِعْلِ شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْمَحْظُورَاتِ مِثْلُ: أَنْ احْتَاجَ إلَى حَلْقِ شَعْرِهِ لِمَرَضٍ، أَوْ قَمْلٍ، أَوْ غَيْرِهِ، أَوْ إلَى تَغْطِيَةِ رَأْسِهِ، أَوْ لُبْسِ الْمَخِيطِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَفَعَلَهُ، فَعَلَيْهِ الْفِدْيَةُ بِلَا خِلَافٍ أَعْلَمُهُ، وَيَجُوزُ تَقْدِيمُ الْفِدْيَةِ بَعْدَ وُجُودِ الْعُذْرِ، وَقَبْلَ فِعْلِ الْمَحْظُورِ

Artinya: Apabila muhrim ingin melakukan sesuatu dari larangan ini seperti memotong rambut karena sakit atau lainnya atau menutup kepalanya atau memakai pakaian berjahit dll lalu melakukannya maka dia harus membayar fidyah tanpa perbedaan ulama sepanjang yang aku ketahui. Boleh mendahulukan bayar fidyah setelah adanya udzur dan sebelum melakukan yang dilarang.

Adapun fidyah yang harus dibayar ada tiga pilihan yaitu menyembelih kambing atau sedekahan pada 60 orang miskin atau puasa tiga hari. Sebagaimana disebut dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ مَنْ فَعَل مِنَ الْمَحْظُورَاتِ شَيْئًا لِعُذْرِ مَرَضٍ، أَوْ دَفْعِ أَذًى، فَإِنَّ عَلَيْهِ الْفِدْيَةَ، يَتَخَيَّرُ فِيهَا: إِمَّا أَنْ يَذْبَحَ هَدْيًا، أَوْ يَتَصَدَّقَ بِإِطْعَامِ سِتَّةِ مَسَاكِينَ، أَوْ يَصُومَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ} وَلِمَا وَرَدَ عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال لَهُ حِينَ رَأَى هَوَامَّ رَأْسِهِ: أَيُؤْذِيكَ هَوَامُّ رَأْسِكَ؟ قَال: قُلْتُ: نَعَمْ، قَال: فَاحْلِقْ، وَصُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ، أَوِ انْسُكْ نَسِيكَةً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. اهــ

Artinya: Ulama sepakat bahwa orang yang melakukan larangan saat ihram karena sakit atau menolak penyakit maka wajib bayar fidyah yang boleh memilih antara menyembelih kambing, bersedekah memberi makan 60 orang miskin atau puasa tiga hari berdasarkan firman Allah QS Al-Baqarah 2:196 dan hadis dari Ka'ab bin Ujrah.

CELANA DALAM TAK BERJAHIT

Di luar hukum di atas, ada solusi yang diberikan oleh ulama Dewan Fatwa Mesir yang menyatakan bahwa celana dalam yang tidak berjahit, yang diproduksi secara khusus oleh perusahaan untuk orang ihram, maka dibolehkan.

وعليه وفي واقعة السؤال: فنفيد بأن السترة المسؤول عنها جائز لُبسُها مِن قِبل المُحرِم حاجًّا كان أو معتمرًا، ويجوز التعامل فيها صناعيًّا وتجاريًّا.

Dengan demikian, kain penutup yang digambarkan dalam pertanyaan di atas boleh dipakai oleh orang yang berihram untuk haji ataupun umrah. Sehingga, perusahaan anda dibolehkan untuk memproduksi barang tersebut.

Baca detail:
- Celana Dalam tak Berjahit saat Ihram
- Haji dan Umroh

Hukum Cairan Bening Luka

Hukum Cairan Bening Luka
HUKUM CAIRAN AIR BENING DARI LUKA, APA NAJIS?

Assalamualaikum ustadz,

Mohin bantuannya untuk menjawab pertanyaan saya sebagai berikut:

1. Saya kemaren ada mandi di sungai, yg tentunya sungainya besar dan lebih dari 2 kullah airnya, pas bercebur didalam sungai tsb tiba tiba kaki saya tergores sesuatu benda sehingga luka lah kaki saya pas posisi tubuh masih didalam sungai tsb, lukanya memang hanya luka gores berdarah kecil, sekitaran 2 cm panjang luka nya, lebarnya ya seperti garis lurus gitu aja (gak lebar), habis itu saya bersihkan kaki saya yg luka gores tersebut diair sungai tempat saya mandi dgn cara ditenggelamkan kaki yg luka sehingga pas diangkat dari air dikakinya hanya sisa luka yg sedikit (warna garis merahnya masih keliatan), nah Khan ada masih sisa luka walau sedikit walau sudah di celupkan ke sungai luka gores saya tersebut, sedang tubuh dan pakaian yg ada dibadan saya masih basah Krn habis mandi di sungai tsb,
pertanyaan:
a. apakah sisa darah luka tergores dengan kondisi seluruh tubuh masih basah itu masih najis?,

b. dan apakah seluruh badan dan juga celana saya mutanajis Krn pas kejadian luka gores tersebut posisi anggota badan seluruhnya basah kuyup gara gara berenang di sungai????,

c. bagaimana kalau luka gores kecil tersebut tersentuh ke bagian tubuh yg lain/celana apakah juga menajiskan bagian yg tersentuh tsb Krn kondisi badan seluruhnya dan pakaian masih basah ?

d. Kalau lukanya gores kecil tersebut masih belum kering, kemudian terkena baju /celana yg baru kita pakai habis mandi, bagaimana status baju/celana yg baru kita pakai tersebut, apakah mutanajis?

2. Pas gak berapa lama luka goresnya mulai sembuh dan mengering (prosesnya sekitar 1-2 jam), dan kemudian timbul air/kelenjar bening di sekitar luka goresan td, apa Hukum cairan bening/air yg keluar saat terkena luka gores sekitar 2 cm misal luka goresnya di kaki, air/cairannya yg keluar berwarna masih bening dan belum berbau, apakah cairan tersebut najis?????? Besok paginya saya liat kaki saya sudah hampir sembuh dan cairan bening tersebut tidak menjadi nanah (lukanya goresnya tidak bernanah dari awal sampai dengan mau sembuh ini).
Terus bagaimana Hukum cairan bening/air yg keluar bukan dari luka gores, misal luka menganga dikaki panjang 15 cm dan lebar 3 cm Krn kakinya luka bekas jatuh tercium aspal pas kecelakaan, juga keluar cairan bening yg tidak berbau, apakah najis juga Krn cairan tersebut dianggap golongan nanah dengan alasan air/getah bening tersebut yang keluar bukan disebabkan luka gores, tapi karena berasal dari luka yang menganga????

3.bagaimana hukum bersalaman tangan dengan orang kafir, misal salah satu tangan yg bersalaman dalam kondisi basah, bisa kita atau tangan non muslim tadi (bahkan bisa juga kondisi tangan keduanya sama sama basah), Karena umumnya non muslim itu makan babi, apakah kita terkena najis mugholadzoh, terus kalau mereka menyuguhkan makan/minum dari gelas piring mereka, apakah itu juga mutanajis barang2nya? Perlukah kita tolak salaman dan makan minum tersebut?Bagaimana sikap kita kalau menghadapi kondisi seperti ini??

4. Bagaimana cara yg benar membersihkan kencing dengan air, apakah cukup di alirkan/disiram air pada ujung kemaluan kita (misal pria, di bagian lubang depan saja, langsung disiram air pakai gayung/semprotan tanpa kita sentuh ujung kemaluan kita tsb) walau tanpa di gosok dengan tangan kiri ujung kemaluan laki2 tersebut pas kita aliri/siram air (jd seperti terkena air hujan), atau wajibkah kita gosok juga pas waktu dialiri air diujung penis tsb, cara menggosok nya bagaimana seharusnya?

5. Tahi cicak/tikus sering ditemui di musholla/dirumah, apakah cukup di bersihkan (dalam artian dibuang zat nya) atau perlu disucikan lagi dengan air setelah dibuang zat nya (Krn sudah menjadi najis hukmiah), baik itu untuk tahi cicak yg sudah kering maupun basah.?

6. Apalagi bangkai cicak termasuk bangkai yg dimaafkan bila terkena air (maksud dimaafkan td apakah air yg terkena Bangkai cicak tersebut tidak mutanajis? Bagaimana dengan bangkai tikus?

7. Madzi sering keluar dengan sendirinya walaupun tanpa ada rangsangan seks, bagaimana cara mengobatinya??apakah ini najis yang dimaaf? Krn kalau wadhi Khan keluar pas kelelahan, ini pas kondisi biasa/normal madzi sering keluar.?

8.kalau anak kecil diatas 2 tahun sembarangan kencing dilantai dapur yang basah, bagaimana cara mensucikan nya nya?misal kita siram dengan air yg banyak dari keran menggunakan selang atau ember pada saat kondisi lantai tsb masih basah yg juga ditambah basah dari kencing anak kecil dan air yang di siram tersebut mengalir dari lantai dapur turun ketanah (sehingga kondisi air yg disiramkan tidak tergenang)

a. apakah sudah bisa mensucikan atau malah menjadikan najisnya bertambah banyak???;

b. berapa banyak air yg perlu dialirkan dalam kondisi ini? Krn kalau menunggu kondisi dapurnya nya kering sangatlah lama bisa semalaman Krn dapur dari lantai kayu dan lantai yang basah cukup luas sehingga susah kalau mau menjadikannya najis hukmiah dulu baru di siram air, sedang masih ada keperluan didapur waktu kondisi lantai dapur yang basah telah ternajisi kencing tersebut.

c. Bagaimana dengan membersihkan lantai WC yang basah yg terkena percikan air kencing, (misal kondisi lantai WC basah, kemudian kita kencing, eh ternyata ada Kencing kita yg terciprat kelantai WC yg lagi basah tersebut, Krn kalau menunggu kering dulu lantai yg ternajisi kencing tadi terus baru di siram air sangatlah susah dilakukan Krn WC nya sering mau dipakai orang yg lain lagi,

d. bagaimana cara membersihkan najis basah dilantai WC tersebut????


9A. Pas kita cebok ada kalanya cipratan air dari cebok tadi terkena anggota tubuh yg lain seperti kaki/paha atau lantai WC, hukum air ini najis atau tidak,?

9B. Habis bangun tidur malam/siang Khan disuruh mencuci tangan terlebih dahulu. Hukum mencuci tangan ini wajibkah? Misal tidak dilakukan/lupa dilakukan, terus pas habis bangun tidur malam/siang kita langsung saja mencelupkan kedua tangan kita ke wadah air yg kurang dari 2 qullah tanpa mencucinya terlebih dahulu, bagaimana hukum air yang ada diwadah tersebut, apakah jadi mutanajis? Ustadz doa'kan saya di sembuhkan Allah dari penyakit was was,

10. Posisi shalat berjamaah pas 2 orang, 1 makmum 1 imam, dimana posisi makmum yg benar, apakah di samping imam sejajar, atau setengah shaf mundur dari posisi imam?

JAWABAN

1a. Darah sedikit pada luka statusnya dimakfu (dimaafkan). Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

1b. Yang najis yang terkena darah saja. Namun dimakfu kalau sedikit. Baca detail: Najis yang Dimaafkan menurut madzhab Syafi'i

1c. Ya, kalau yang tersentuh oleh darah tersebut dihukumi najis. Tapi najis yang dimakfu kalau darahnya sedikit.

1d. Ya, mutanajis di bagian yang terkena saja. Dan najisnya dimakfu kalau sedikit. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu?


2. Hukum cairan bening dari luka adalah suci.
Al-Malibari dalam Fathul Muin, hlm. 1/72, menyatakan:

وكذا ماء جرح وجدري ونفط إن تغير وإلا فماؤها طاهر.

Artinya: Begitu juga (tidak suci) air karena luka, cacar air, minyak apabila berubah. Apabila tidak berubah maka suci.

Maknanya, air luka selagi tetap bening hukumnya suci.

Al-Bakri dalam Ianatut Talibin, hlm 1/101, menambahkan:

(قوله: وكذا ماء الخ) أي ومثل الصديد ماء جرح، وماء جدري، وماء نفط.وقوله: إن تغير أي هو نجس إن تغير.(قوله: وإلا) أي وإن لم يتغير.وقوله: فماؤها طاهر الأولى: فهو طاهر، لأن المقام للإضمار.وعبارة شرح الروض: فإن لم يتغير ماء القرح فطاهر كالعرق، خلافا للرافعي

Artinya: Sama dengan nanah adalah air luka dan air dari cacar air. Semuanya najis apabila berubah. Apabila tidak berubah maka hukum cairan itu suci. Apabila air / cairan luka itu tidak berubah maka hukumnya suci sebagaimana sucinya keringat. Berbeda dengan pandangan Rafi'i.

3. Hukum orang kafir itu suci. Begitu juga hukum tangan orang kafir itu suci. Kecuali kalau ada bukti sebaliknya. Selagi saat salaman kita tidak melihat dia memegang babi maka tangannya dihukumi suci. Asumsi kita bahwa mungkin dia memegang daging babi itu asumsi tidak dianggap. Baca detail: Menyentuh Non-Muslim Ragu Najis Anjing

Jadi, tidak ada larangan untuk meminum minuman dan makanan yang disuguhkan non-muslim. Kecuali tampak ada najis di gelas minuman atau di makanan tersebut. Berdasarkan kaidah fikih: "Hukum segala sesuatu itu berdasarkan pada hukum asalnya." Baca detail: Kaidah Fikih

4. Cukup dialiri air pada tempat yang najis. Kalau najisnya hanya di lubang kemaluan, maka cukup dialirkan air pada sekitar kemaluan tsb. Jumlah siraman cukup sekali, namun sunnah sampai tiga kali. Baca detail: Cara Bersuci (Istinjak) BAB dan Kencing

5. Kalau sudah dibuang dan menjadi najis hukmiyah, maka cukup disiram air satu kali. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

6. Bangkai cicak termasuk dimaafkan disamakan dengan lalat. Sedangkan tikus tidak. Karena dimaafkan maka air yang terkena bangkai cicak tidak mutanajis. Beda dengan air yang terkena bangkai tikus. Baca detail: Kotoran Lalat, Kelelawar Najis Makfu

7. Madzi termasuk najis yang harus disucikan (tidak makfu). Selain itu, ia membatalkan wudhu. Baca detail: Beda Mani dan Madzi

Namun kalau keluarnya madzi itu terjadi terus menerus sehingga sampai tidak ada waktu untuk shalat, maka anda termasuk daimul hadas (orang yang selalu hadas) dan mendapat keringanan khusus dan hukum khusus dalam tata cara bersuci dan shalat. Baca detail: Shalat orang yang Beser (Selalu Kencing)


8a. Cara itu sudah cukup. Intinya, menyucikan najis ainiyah itu harus (a) menghilangkan najisnya lebih dulu (untuk merubah najis ainiyah menjadi hukmiyah); (b) setelah najisnya hilang dan menjadi hukmiyah, baru disiram dengan air lagi untuk menyucikan.

Menghilangkan najis ainiyah bisa dengan salah satu dari dua cara yaitu (a) dengan benda padat seperti tisu, kain, handuk, dll; atau (b) dengan air dengan menyiram najis tersebut beberapa kali sampai hilang. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

8b. Tidak ada ketentuan berapa banyaknya. Yang prinsip: air siraman pertama berfungsi untuk menghilangkan benda najisnya. Setelah itu, air kedua berfungsi untuk menyucikan tempat najisnya.

8c. Sama dengan cara di 8b dan bc, yaitu hilangkan benda najisnya lebih dulu (dengan air atau lainnya), kemudian tahap kedua siram lagi dengan air untuk menyucikannya. Penyucian tahap dua cukup sekali.

8d. Lihat poin 8c.

9A. Najis, tapi kalau sangat sedikit hukumnya dimaafkan (makfu). Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu?

9b. Tidak wajib juga tidak sunnah. Tapi baik bagi kesehatan.
Mencelupkan air ke wadah air setelah bangun tidur tidak menajiskan. Airnya tetap suci.
Was-was najis obatnya adalah dengan mengabaikannya. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Kencing

10. Posisi imam berada di sebelah kanan mundur sedikit dari imam. Baca detail: Shalat Berjamaah

Cara Sembuh Was-was Mandi Wajib

Cara Sembuh Was-was Mandi Wajib
CARA SEMBUH WAS-WAS MANDI WAJIB / JUNUB / BESAR

1.bagaimana caranya biar setelah mandi wajib kita yakin seluruh badan sudah terbasuh ? Sering saya merasa ragu pada suatu bagian, sering saya lupa bagaimana tadi cara membasuhnya. Jika diabaikan takut dosa karena mungkin saja keraguan itu benar, jika dituruti pasti akan muncul ragu yang lain, yang tidak dituruti saja masih ragu pada bagian tubuh yang mana-mana.

2.apakah kuku harus disiram tersendiri saat mandi wajib ? Apakah boleh dengan cara membasuh tangan dan kaki seperti berwudhu saja ?

3.apakah dengan cara membasuh tangan dan kaki seperti berwudhu, kuku tangan dan kaki sudah ikut terbasuh sampai celahnya ?

4.niat dengan bantuan teks apakah disebut niat juga ? Membacanya didalam hati ?

5.Apakah niat harus ada lafadz karena Allah ?

6.apakah celah kuku jari tangan dan kaki yang ada di

7.bagaimana cara meyakinkan air sudah merata pada seluruh tubuh ? Terutama pada rambut dan bagian belakang tubuh serta lipatan pada tubuh ?


JAWABAN

1. Caranya dengan mengabaikannya. Karena keraguan yang timbul dalam konteks anda itu disebabkan oleh was-was. Dan was-was itu obatnya dengan mengabaikannya.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Kubro Al-Fiqhiyah ala Al-Madzhab Al-Syafi'i, hlm. 1/149, menyatakan:

وسئل : عن داء الوسوسة هل له دواء ؟ فأجاب بقوله: له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية وإن كان في النفس من التردد ما كان فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت بل يذهب بعد زمن قليل كما جرب ذلك الموفقون وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تخرجه إلى حيز المجانين بل وأقبح منهم

Artinya: Al-Haitami ditanya adakah obat bagi penyakit was-was? Ia menjawab: Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu mengabaikan atau berpaling darinya secara total. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendirinya dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya seperti orang gila atau lebih parah dari orang gila.
Baca detail:
- Apabila Mandi Tidak Merata
- Ragu Saat Mandi Ada yang Tak Terbasuh

2. Tidak perlu disiram secara khusus. Ya, boleh dengan membasuh seperti saat wudhu.

3. Ya.

4. Ya, dianggap niat. Yang penting harus dibaca dalam hati. Baca detail: Cara Niat

5. Tidak harus.

6. Tidak jelas apa yang anda tanyakan. Tapi soal kuku, silahkan lihat: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

7. Caranya pakai logika: bahwa kalau air sudah disiramkan ke bagian belakang, maka otomatis air akan mengenai seluruh tubuh belakang. Menurut syariah, asumsi atau dugaan air sudah merata itu sudah cukup. Tidak harus ada kepastian dan bukti.

CARA SEMBUH WAS-WAS MANDI JUNUB (2)

1. Maaf no.6 belum selesai diketik.
Apakah celah kuku jari tangan dan kaki harus dibersihkan dan apakah saat akan disiram air harus dibuka dengan alat bantu untuk memasukkan air ?

2. Bagaimana dengan kotoran yang ada diatas kuku yang sering saya dapati jika saya senter ? Bentuk kotorannya seperti titik hitam dan sering sekali ada, jika itu menjadi penghalang berarti setiap wudhu saya harus menyenteri kuku saya untuk membersihkan kotoran tersebut ?

3. Kadang kotorannya sulit hilang dan harus dikikis dengan menggunakan alat. Tidak akan hilang jika hanya disikat dan disiram air.

4. Untuk jawaban no.1 . Berarti meski keraguan itu sangat hebat sampai membuat saya gelisah dna mungkin saja keraguan itu benar adanya, maka harus diabaikan saja ?

5. Berarti selesai mandi jangan dipikirkan lagi mandi yang sudah lalu ?

6. Jika saat mandi ragu sudah membasuh bagian tertentu maka harus dibasuh, lalu bagaimana jika ragu saat mandi itu terus menerus datang saat sudah dituruti juga ? Apakah diabaikan atau tetap dituruti ? , kemudian jika diluar mandi muncul ragunya maka diabaikan. Bagaimana jika ragunya muncul saat saya sudah menetapkan selesai mandi dan masih dikamar mandi ? Apakah harus dituruti atau tidak ?

JAWABAN

1. Tidak perlu dibersihkan dan tidak harus dibuka dengan alat bantu. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

2. Tidak perlu dibersihkan. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

3. Tidak perlu dibersihkan. Cukup siramkan air pada tangan saat mandi atau wudhu seperti biasa. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib

4. Ya, harus diabaikan. Berdasarkan perintah Nabi dan anjuran para ulama.

5. Betul. Jangan dipikirkan. Memikirkan itu tanda was-was. Dan was-was itu dilarang.

6. Ya, abaikan kalau terjadi terus menerus. Itu namanya was-was yang dilarang. Baca juga: Cara Sembuh Was-was Kencing

CARA NIAT

A. Pertanyaan jawaban no.1
Berarti celah kuku yang ada disamping kiri kanan itu buka termasuk bagian zahir sehingga tidak perlu dibersihkan dan tidak perlu dibuka untuk dimasukkan air ?

B. Sah tidak pak ustadz jika niat :
1. Sholat "saya niat sholat fardhu zuhur karena Allah"
2.wudhu "saya niat wudhu karena Allah"
3. Mandi wajib "saya niat mandi wajib Karena Allah"

apakah jika tidak pakai Karena Allah akan menjadi tidak sah ?

JAWABAN

A. Ya. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

B1. Sah. Baca detail: Cara Niat
B2. Sah.
B3. Sah. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib

ADA TITIK PADA KAKI, SAHKAH MANDINYA?

Jika sudah selesai mandi wajib, kemudian waktu malam harinya melihat ada noda atau kotoran sedikit seperti titik titik pada kaki, apakah itu menjadi penghalang air ? Pada saat akan mandi wajib saya lupa mengecek bagian tersebut.

Atau apakah mungkin kotoran itu ada diluar pada mandi wajib ? Karena saya melakukan aktivitas diluar rumah, sepeti ke mesjid dan berbelanja, dan waktu sebelum saya dapati kotoran itu saya memukul nyamuk. Apakah mungkin juga itu bekas bangkai nyamuk yang gepeng?

JAWABAN

Tidak jadi penghalang. Mandi tetap sah.

Bisa jadi.

Hukum Sedekah pada Non Muslim

Hukum Bersedekah pada Non Muslim
MENOLONG DAN BERSEDEKAH ORANG NON MUSLIM (KAFIR)

Assalamualaikum admin alkhoirot, ana mau tanyak adakah kita salah jika menolong orang non muslim

JAWABAN

Menolong sesama manusia itu perbuatan yang baik dan terpuji. Baik kepada sesama muslim atau non-muslim. Dalam sebuah hadits disebutkan:


عن ابن عمر- رضي الله عنهما- أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله أي الناس أحب إلى الله؟ وأي الأعمال أحب إلى الله - عز وجل -؟ فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: أحب الناس إلى الله أنفعهم، وأحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور تدخله على مسلم، أو تكشف عنه كربة، أو تقضي عنه دينا، أو تطرد عنه جوعا، ولأن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في المسجد شهرا، ومن كف غضبه ستر الله عورته، ومن كظم غيظا ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم القيامة، ومن مشى مع أخيه المسلم في حاجته حتى يثبتها له أثبت الله تعالى قدمه يوم تزل الأقدام، وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل . رواه الطبراني

Artinya: Seorang lelaki datang pada Rasulullah dan bertanya, "Wahai Rasulullah siapa yang paling dicintai di sisi Allah? Perbuatan apa yang paling disukai Allah?" Nabi menjawab, "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling memberi manfaat pada sesama manusia. Sedangkan perbuatan yang Atau menghilangkan kesusahannya. Atau membayarkan hutangnya. Atau mengusir kelaparannya. Aku berjalan bersama saudaraku untuk kebutuhannya, lebih aku sukai dari pada beri'tikaf di masjid ini selama sebulan. Siapa yang menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya. Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melaksanakannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan pengharapan pada hari kiamat.
Siapa yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya sampai terpenuhi, maka Allah akan kokohkan kakinya di hari kaki-kaki terpeleset (dalam neraka). Sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka merusak madu. (HR Ath Thabrani dalam Al Ausath. Status: hadis hasan)

Adapun bolehnya berbuat baik pada orang kafir (non muslim) secara tegas disebutkan dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Dari ayat ini kemudian Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 3/121, menyatakan:

قضية إطلاق حل الصدقة للكافر أنه لا فرق بين الحربي وغيره، وهو ما في البيان للصيمري وغيره، والأوجه ما قاله الأذرعي من أن هذا فيمن له عهد أو ذمة أو قرابة، أو يرجى إسلامه، أو كان بأيدينا بأسر ونحوه، فإن كان حربياً ليس فيه شيء مما ذكر فلا.اهـ

Artinya: Bolehnya bersedekah pada orang kafir secara mutlak itu artinya tidak ada perbedaan antara kafir harbi dan lainnya. Itulah pendapat yang terdapat dalam kitab Al-Bayan karya Shaimari dan lainnya. Pendapat yang paling kuat adalah yang dikatakan Adzrui bahwa kebolehan bersedekah pada nonmuslim itu hanya pada kafir muahad, kafir dzimmi dan kerabat non-muslim atau kafir yang bisa diharapkan Islamnya atau sedang dalam masa tahanan dan sejenisnya. Sedangkan kafir harbi tidak termasuk.
Baca detail: Mendoakan Orang Tua Kafir yang Meninggal

***

WARISAN: BAGIAN WARIS PENINGGALAN SUAMI YANG MODALNYA DARI ISTRI

Saya mempunyai saudara perempuan janda Kaya Raya, menikah dengan pemuda perjaka tahun 1990. Tahun 2018 ini suaminya baru saja meninggal. Selama kurang lebih 28 tahun ini, Yang menjalankan usaha Dari saudara saya ini adalah suaminya. Selama menikah, mereka tidak dikarunia i anak. Tapi Pada tahun 2002 lalu, mereka mengangkat seoramg anak perempuan. Saat ini, suami saudara perempuan saya ini masih mempunyai ibu Dan 4 saudara. Sedangkan saudara perempuan saya mempunyai 10 saudara Dan sudah tidak mempunyai bapak ibu.

Yang saya tanyakan bagaimana pembagian hak warisnya? (Harta kekayaannya Yang menjadi modalnya dulu Dari saudara perempuan saya Dan semua hartanya atas Nama almarhum suaminya)

JAWABAN

Yang pertama harus dilakukan adalah menginventarisir dan memisahkan mana harta miliknya sendiri dan mana harta milik istri. Setelah jelas, maka harta yang menjadi milik suami yang harus dibagikan kepada ahli waris. Perlu diketahui bahwa suami istri memiliki harta masing-masing sesuai dengan sistem kepemilikan yang berlaku umum. Dalam Islam tidak ada harta gono-gini atau harta bersama secara otomatis. Baca detail: Harta Gono gini

Kedua, setelah itu, baru dilakukan pembagian warisan sesuai dengan hukum waris Islam. Di mana istri juga menjadi salah satu ahli warisnya. Anda bisa berkonsultasi pada aparat desa yang paham soal waris atau tokoh agama setempat untuk menghitung dan membagi harta warisannya. Baca detail: Hukum Waris Islam

***

WARISAN ISTRI UNTUK SUAMI DAN DUA SAUDARA PEREMPUAN

Assalamualaikum...
Mau nanya.
Bagaimanapembagian harta warisan sesuai hukum islam dari seorang istri tanpa anak.
Dia meninngalkan seorang suami. 4 orang anak tiri (semua laki laki). 2 orang saudara perempuan sekandung. 3 orang ponakan laki-laki dan 2 orang ponakan perempuan dari kakak laki laki sekandung (alm 1). 5 orang ponakan perempuan dari adik laki-laki sekandung (alm 2). Terima kasih.

Ayah ibunya sudah tidak ada

Wassalam

JAWABAN

Dalam kasus di atas pembagiannya sbb:

a) Suami mendapat 1/2 = 3/6 = 3/7
b) Dua saudara perempuan kandung mendapat 2/3 = 4/6 = 4/7
Total = 7/6 = 7/7

Cara menghitung:

[harta warisan] x bagian ahli waris = bagian ahli waris.
Contoh:
Bagian suami: Harta warisan 12.000.000 x 3/7 = (bagian suami)
Bagian dua saudara kandung: 12.000.000 x 4/7 = (bagian dua saudara kandung).

CATATAN:

Seluruh keponakan dalam kasus di atas tidak mendapat bagian.
Baca detail: Hukum Waris Islam